Senin, 16 November 2015

PEMBINAAN PETANI UNTUK MENINGKATKAN HASIL OLEH TEAM SBK

PETANI BESERTA KELUARGA ANTUSIAS.. IBU2 JUGA DATANG

SANTAI & BERSAHABAT

DI DEPAN BIAR LEBIH JELAS.. KATA SI MBAH

LELAH .. CAPEK.. UNTUK PETANI

KETUA KELOMPOK TANI BERPERAN SEBAGAI PETANI KUNCI

TETAP SEMANGAT.. WALAU MALAM SEMAKIN LARUT

BANGGA JADI PETANI.. AYO MAJU PETANI INDONESIA


PETANI JOHO SEMEN KEDIRI

BALAI DESA

ANTUSIAS

CERIA.. BAHAGIA.. TERBUKTI DARI SENYUMAN

SERIUS TAPI SANTAI

NGULET ORA POPO

SENANG BISA MELIHAT SENYUM PETANI
SRENGAT BLITAR
Petani Srengat Blitar sangat antusias untuk berubah ke pertanian yang lebih baik

TUNASEMI

TUNASEMI siap hadir untuk membantu petani dalam meningkatkan hasil pertanian dan kualitas hasil panen info lebih lanjut hub 08113223220

Kamis, 13 Februari 2014

CARA AGAR TANAMAN HORTIKULTURA & PANGAN PANEN MELIMPAH* (CABE, TOMAT, SEMANGKA, MELON, KENTANG, JAGUNG, KEDELAI)


Pada dasarnya cara ini berdasarkan pengalaman rata-rata petani yang pernah memakai poc SUBUR Asam Amino, ZPT Organik di daerah Banyuwangi, Jember, Lumajang, Probolinggo, Jombang, Mojokerto dan Gresik.
Tehnis yang mereka terapkan adalah sebagai berikut (sesuai dengan rekomendasi kami)
     1.      Benih yang akan di gunakan sebagai benih di jemur terlebih dahulu 2-3 jam pukul 09.00-11.00.
     2.      Benih di rendam dalam larutan SUBUR dengan perbandingan 1 liter air 10 ml Subur selama 24 jam,       kemudian di tiriskan setelah itu baru di semai.
Catatan : perendaman dengan cara tersebut dapat meningkatkan Daya Berkecambah benih, Hal ini pernah di coba pada benih kedaluarsa (dengan fisik masih bagus) DB nya bisa mencapai 75 % - 80%, yang di mana biasanya benih kedaluarsa DB nya di bawah 50%.
Khusus untuk benih yang sudah ada obatnya (seed treatment) contoh benih jagung maka cara yang di gunakan benih cukup di basahi murni (tanpa di tambah air) dengan SUBUR secukupnya(rata pada benih).
      3.      Khusus pada jagung, SUBUR apabila perlakuan benih tersebut di lanjutkan dengan cara dikocorkan pada pemupukan 1 & ke 2 maka dapat mencegah terjadinya penyakit bulai walaupun tidak 100% bebas bulai.
     4.      Pada fase perawatan setelah tanam aplikasi SUBUR dapat dilakukan pada umur 10 atau 15 hari setelah tanam dengan cara di seprotkan SUBUR secara merata pada tanaman dengan dosis 100 ml per tangki 14 ltr, kemudian di ulang (interfal) 7 hari – 10 hari sekali dengan dosis 100 ml per tangki 14 liter, bisa juga dengan interfal 3-4 hari sekali pada tanam Cabe & Tomat.
      5.      Pemupukan secara kimiawi di anjurkan agar mereduksi (mengurangi) pemakaian pupuk urea 25-30% atau Urea dapat di ganti dengan ZA, sedangkan pupuk yang lain tetap (sesuai dengan anjuran petugas setempat).
      6.      Ketika kondisi tanaman terserang jamur atau bahteri SUBUR tetap di aplikasikan, (biasanya tidak di anjurkan oleh petugas penyuluh ketika tanaman terserang penyakit untuk di semprot pupuk daun) hal ini bisa di maklumi karena ketika pupuk daun tersebut banyak mengandung unsur N maka perkembangan penyakit akan semakin cepat. Hal ini berbeda dengan SUBUR karena SUBUR rendah unsur N nya jadi ketika di aplikasikan ketanaman tetap aman.
      7.      Aplikasi SUBUR ketika sesuai dengan rekomendasi diatas maka ketika lebih dari 3 kali aplikasi yang terjadi adalah : TANAMAN AKAN LEBIH SEHAT, DAUN LEBIH LEBAR DAN HALUS, WARNA DAUN HIJAU CERAH, BUNGA AKAN LEBIH BANYAK, BUAH AKAN LEBIH LEBAT, UMUR TANAMAN AKAN LEBIH PANJANG & PANEN AKAN MELIMPAH, insyaallah.
      8.      SUBUR pada tanaman hortikultura dan umbi-umbian (bawang, ketela, kentang,singkong) ketika di kocorkan bersamaa dengan pemupukan maka dapat memperbesar umbi atau rimpang.
      9.      SUBUR pada tanaman hortikultura (Cabe, Tomat, Semangka, Melon dll) ketika di kocorkan bersamaa dengan pemupukan maka dapat mempercepat pertumbuhan tanaman dan meningkatkan rendemen hasil panen.
      10.  Sebaiknya Aplikasi penyemprotan SUBUR di lakukan pada pagi maksimal jam 09.00, atau sore setelah jam 15.00
      11.  Untuk meningkatkan kinerja SUBUR dapat di lakukan fermentasi lanjutan (bacem) dengan Laos, Kunir, Sereh atau bahan organik lain (seperti buah maja, buah kudu dll) masing-masing 1 kg untuk SUBUR 5 liter tanpa di tambah i air. Dengan demikian anda akan mempunyai SUBUR sekaligus pestisida organik.
     
     Demikian informasi yang dapat kami sampaikan mudah-mudahan bermanfaat bagi petani Indonesia.
    
     CP ; 081336610171, 085733082607
     
     *Jika tepat Dosis, Cara, Waktu & Sasaran

CARA MENINGKATKAN PANEN PADI 20 % SAMPAI 40 % *


Pada dasarnya cara ini berdasarkan pengalaman rata-rata petani yang pernah memakai poc SUBUR Asam Amino, ZPT Organik di daerah Banyuwangi, Jember, Lumajang, Probolinggo, Jombang, Mojokerto dan Gresik.
Tehnis yang mereka terapkan adalah sebagai berikut (sesuai dengan rekomendasi kami)
     1.      Benih gabah yang akan di gunakan sebagai benih di jemur terlebih dahulu 2-3 jam pukul 09.00-11.00. 
     2.      Benih di rendam dalam larutan SUBUR dengan perbandingan 1 liter air 10 ml Subur selama 24 jam, kemudian di tiriskan setelah itu baru di semai.
Catatan : perendaman dengan cara tersebut dapat meningkatkan Daya Berkecambah benih,
Hal ini pernah di coba pada benih kedaluarsa (dengan fisik masih bagus) DB nya bisa mencapai 75 % - 80%, yang di mana biasanya benih kedaluarsa DB nya di bawah 50%.
      3.      Untuk mempercepat perpindahan tanam kelahan (dari persemaian ke lahan ) dapat di semprotkan SUBUR 60 ml per tangki 14 ltr pada persemaian umur 7 hari dan 15 hari.
      4.      Pada fase perawatan padi setelah tanam aplikasi SUBUR dapat dilakukan pada umur 10 atau 15 hari setelah tanam dengan cara di seprotkan SUBUR secara merata pada tanaman padi dengan dosis 100 ml per tangki 14 ltr, kemudian di ulang (interfal) 7 hari – 10 hari sekali dengan dosis 100 ml per tangki 14 liter, (di butuhkan aplikasi SUBUR minimal 6 kali aplikasi) penyemprotan terakhir pada fase malai padi menjelang masak.
      5.      Pemupukan secara kimiawi di anjurkan agar mereduksi (mengurangi) pemakaian pupuk urea 25-30% atau Urea dapat di ganti dengan ZA, sedangkan pupuk yang lain tetap (sesuai dengan anjuran petugas setempat).
      6.      Ketika kondisi tanaman terserang jamur atau bahteri SUBUR tetap di aplikasikan, (biasanya tidak di anjurkan oleh petugas penyuluh ketika tanaman terserang penyakit untuk di semprot pupuk daun) hal ini bisa di maklumi karena ketika pupuk daun tersebut banyak mengandung unsur N maka perkembangan penyakit akan semakin cepat. Hal ini berbeda dengan SUBUR karena SUBUR rendah unsur N nya jadi ketika di aplikasikan ketanaman tetap aman.
      7.      Aplikasi SUBUR ketika sesuai dengan rekomendasi diatas maka ketika lebih dari 3 kali aplikasi yang terjadi adalah : JUMLAH ANAKA AKAN LEBIH BANYAK, TANAMAN AKAN LEBIH TINGGI, WARNA DAUN HIJAU CERAH DAN HALUS, DAUN LEBIH LEBAR, MALAI PADI AKAN LEBIH BANYAK, GABAH SETELAH DI PANEN AKAN LEBIH BERNAS & BENING (BERSIH). Insyaallah
      8.      Ketika petani intensif menggunakan SUBUR maka bisa di lakukan pemeliharaan tanaman padi tanpa pestisida hal ini pernah di lakukan oleh petani di daerah Lumajang, Probolinggo, Mojokerto, dan Jombang. (jika di perlukan untuk testimoni bisa kita berikan no HP petani yang pernah melakukan budidaya padi tanpa pestisida, silahkan sms ke kami)
      9.      Sebaiknya Aplikasi penyemprotan SUBUR di lakukan pada pagi maksimal jam 09.00, atau sore setelah jam 15.00
      10.  Untuk meningkatkan kinerja SUBUR dapat di lakukan fermentasi lanjutan (bacem) dengan Laos, Kunir, Sereh atau bahan organik lain (seperti buah maja, buah kudu dll) masing-masing 1 kg untuk SUBUR 5 liter tanpa di tambah i air. Dengan demikian anda akan mempunyai SUBUR sekaligus pestisida organik.

      Demikian informasi yang dapat kami sampaikan mudah-mudahan bermanfaat bagi petani Indonesia.

      CP ; 081336610171, 085733082607

     *Jika tepat Dosis, Cara, Waktu & Sasaran

Kamis, 16 Januari 2014

PUPUK ORGANIK SOLUSI PENINGKATAN PRODUKSI PADI NASIONAL


     Pada empat (4) tahun terakhir (2007-2010)  Indonesia telah berswasembada beras dengan laju peningkatan produksi  4,5% per tahun. Peningkatan produksi tersebut tercapai setelah Pemerintah gencar melaksanakan program P2BN (Program Peningkatan Produksi Beras Nasional) dengan memberikan berbagai  subsidi, bantuan langsung dan insentif bagi petani  dalam bentuk benih unggul termasuk padi hibrida, pupuk kimia (N,P, K ) dan pupuk organik pada petani dan  kelompok tani melalui Gapoktan. Kegiatan penyuluhan petani ditingkatkan dengan menambah kuantitas dan kualitas tenaga PPL yang disebarkan sampai ke semua   desa. Tujuan  utama kegiatan P2BN adalah peningkatan produksi padi setiap tahun yang ditargetkan 5% guna mengimbangi pertambahan kebutuhan pangan akibat pertambahan  penduduk  serta  kebutuhan sektor lain akan  tanaman pangan. 
     Menuju kemandirian dan ketahanan pangan nasional, program peningkatan produksi beras nasional dilakukan dengan beberapa skenario, yaitu 1) peningkatan produksi beras nasional melalui program intensifikasi khusus, 2) perluasan areal padi melalui program ekstensifikasi khusus, dan 3) gabungan/kombinasi program intensifikasi dan ekstensifikasi.
     Peningkatan produksi beras nasional melalui program intensifikasi khusus salah satunya dapat dilakukan dengan memaksimalkan input pupuk organik saat pengolahan lahan. Maksimalisasi input pupuk organik bukan bertujuan untuk menghilangkan penggunaan pupuk anorganik, tetapi bertujuan untuk memperbaiki kondisi unsur hara tanah sehingga dapat berproduksi secara maksimal saat input produksi lainnya seperti penggunaan pupuk N,P,K dan bibit unggul dilaksanakan secara maksimal.

A.  Masalah 

     Seiring dengan digalakkannya program peningkatan produksi beras nasioanl (P2BN), maka salah satu masalah yang sering dihadapi di lapangan adalah terbatasnya jumlah produksi pupuk organik di kalangan petani. Padahal pupuk organik merupakan salah satu input produksi yang memiliki peranan yang sangat penting dalam rangka memperbaiki unsur hara tanah yang saat ini kondisinya sangat memprihatinkan.
Pemakaian pupuk an-organik secara berlebihan dan berlangsung terus menerus tanpa diimbangi dengan pemakaian pupuk organik menyebabkan kualitas tanah menurun dan tidak optimal untuk usaha pertanian. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan 79% lahan pertanian di Indonesia khususnya sawah memiliki kadar C-Organik tanah < 2% , padahal kadar C-Organik dalam tanah yang baik untuk pertanian minimal 5%. Satu-satunya solusi untuk mengembalikan kesuburan tanah atau untuk meningkatkan kadar hara tanah adalah dengan menggunakan pupuk organik atau bahan-bahan organik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa permasalahan utama yang dihadapi dalam meningkatkan produksi beras nasional adalah rendahnya kandungan C-organik tanah sehingga tidak mampu berproduksi secara maksimal. 


B. Tujuan

     Tulisan ini bertujuan untuk memberikan informasi terkait pentingnya peranan pupuk organik dalam peningkatan produksi pertanian, khususnya dalam rangka meningkatkan produksi padi.

C. Ruang Lingkup

      Ruang lingkup bahasan dalam tulisan ini adalah peranan pupuk organik dalam peningkatan produksi beras nasional. 

I. PUPUK ORGANIK DAN PERANANNYA DALAM PENINGKATAN PRODUKSI PADI NASIONAL 

A.    Peranan Pupuk Organik dalam Peningkatan Produksi Pertanian

      Sejarah penggunaan pupuk pada dasarnya merupakan bagian daripada sejarah pertanian. Penggunaan pupuk organik diperkirakan sudah dimulai sejak permulaan manusia mengenal bercocok tanam, yaitu sekitar 5.000 tahun yang lalu. Bentuk primitif dari penggunaan pupuk dalam memperbaiki kesuburan tanah dimulai dari kebudayaan tua manusia di daerah aliran sungai-sungai Nil, Euphrat, Indus, Cina, dan Amerika Latin.  
Di Indonesia, pupuk organik sudah lama dikenal para petani. Penduduk Indonesia sudah mengenal pupuk organik sebelum diterapkannya revolusi hijau. Setelah revolusi hijau, kebanyakan petani lebih suka menggunakan pupuk buatan karena praktis menggunakannya, jumlahnya jauh lebih sedikit dari pupuk organik, harganyapun relatif murah, dan mudah diperoleh. 
Kebanyakan petani sudah sangat tergantung pada pupuk buatan, sehingga dapat berdampak negatif terhadap perkembangan produksi pertanian.  Tumbuhnya kesadaran para petani akan dampak negatif penggunaan pupuk buatan dan sarana pertanian modern lainnya terhadap lingkungan telah membuat mereka beralih dari pertanian konvensional ke pertanian organik. Meskipun demikian, agar kuantitas produksi tetap terjaga maka penggunakan pupuk anorganik tetap dianjurkan untuk digunakan secara berimbang. 

1.    Jenis-jenis pupuk organik dan manfaatnya

     Saat ini petani terkadang masih bingung memilih jenis pupuk organik yang baik untuk digunakan di lahan persawahan. Karena begitu banyak ragam merek pupuk organik yang beredar dipasaran yang terkadang tidak diimbangi dengan kualitas. Oleh karena itu, langkah terbaik sesungguhnya untuk menyelesaikan persoalan ini adalah memberikan pengetahuan kepada petani untuk membuat pupuk organik secara mandiri. Namun demikian, sebelum membuat pupuk organik alangkah baiknya jika setiap masyarkat mengenal manfaat dari jenis jenis-jenis pupuk organik berikut ini :

1)    Pupuk kandang

     Pupuk kandang adalah pupuk yang berasal dari kotoran hewan. Hewan yang kotorannya sering digunakan untuk pupuk kandang adalah hewan yang bisa dipelihara oleh masyarakat, seperti kotoran kambing, sapi, domba, dan ayam. Selain berbentuk padat, pupuk kandang juga bisa berupa cair yang berasal dari air kencing (urine) hewan. Pupuk kandang mengandung unsur hara makro dan mikro. Pupuk kandang padat (makro) banyak mengandung unsur fosfor, nitrogen, dan kalium. Unsur hara mikro yang terkandung dalam pupuk kandang di antaranya kalsium, magnesium, belerang, natrium, besi, tembaga, dan molibdenum. Kandungan nitrogen dalam urine hewan ternak tiga kali lebih besar dibandingkan dengan kandungan nitrogen dalam kotoran padat.  Pupuk kandang terdiri dari dua bagian, yaitu: pupuk kandang dingain dan pupuk kandang panas. Pupuk dingin adalah pupuk yang berasal dari kotoran hewan yang diuraikan Secara perlahan oleh mikroorganime sehingga tidak menimbulkan panas, contohnya pupuk yang berasal dari kotoran sapi, kerbau, dan babi. Pupuk panas adalah pupuk yang berasal dari kotoran hewan yang diuraikan mikroorganisme secara cepat sehingga menimbulkan panas, contohnya pupuk yang berasal dari kotoran kambing, kuda, dan ayam. Pupuk kandang bermanfaat untuk menyediakan unsur hara makro dan mikro dan mempunyai daya ikat ion yang tinggi sehingga akan mengefektifkan bahan - bahan anorganik di dalam tanah, termasuk pupuk anorganik. Selain itu, pupuk kandang bisa memperbaiki struktur tanah, sehingga pertumbuhan tanaman bisa optimal. Pupuk kandang yang telah siap diaplikasikan memiliki cirri – cirri : dingin, remah, wujud aslinya tidak tampak, dan baunya telah berkurang. Jika belum memiliki ciri-ciri tersebut, pupuk kandang belum siap digunakan. Penggunaan pupuk yang belum matang akan menghambat pertumbuhan tanaman, bahkan bisa mematikan tanaman. Penggunaan pupuk kandang yang baik adalah dengan cara dibenamkan, sehingga penguapan unsur hara akibat proses kimia dalam tanah dapat dikurangi. Penggunaan pupuk kandang yang berbentuk cair paling baik dilakukan setelah tanaman tumbuh, sehingga unsur hara yang terdapat dalam pupuk kandang cair ini akan cepat diserap oleh tanaman.

2)    Pupuk hijau

     Pupuk hijau adalah pupuk organik yang berasal dari tanaman atau berupa sisa panen. Bahan tanaman ini dapat dibenamkan pada waktu masih hijau atau setelah dikomposkan. Sumber pupuk hijau dapat berupa sisa-sisa tanaman (sisa panen) atau tanaman yang ditanam secara khusus sebagai penghasil pupuk hijau, seperti sisa–sisa tanaman, kacang-kacangan, dan tanaman paku air (Azolla). 
Jenis tanaman yang dijadikan sumber pupuk hijau diutamakan dari jenis legume, karena tanaman ini mengandung hara yang relatif tinggi, terutama nitrogen dibandingkan dengan jenis tanaman lainnya. Tanaman legume juga relatif mudah terdekomposisi sehingga penyediaan haranya menjadi lebih cepat.  Pupuk hijau bermanfaat untuk meningkatkan kandungan bahan organik dan unsur hara di dalam tanah, sehingga terjadi perbaikan sifat fisika, kimia, dan biologi tanah, yang selanjutnya berdampak pada peningkatan produktivitas tanah dan ketahanan tanah terhadap erosi. Pupuk hijau digunakan dalam: 
Penggunaan tanaman pagar, yaitu dengan mengembangkan sistem pertanaman lorong, dimana tanaman pupuk hijau ditanam sebagai tanaman pagar berseling dengan tanaman utama.
Penggunaan tanaman penutup tanah, yaitu dengan mengembangkan tanaman yang ditanam sendiri, pada saat tanah tidak ditanami tanaman utama atau tanaman yang ditanam bersamaan dengan tanaman pokok bila tanaman pokok berupa tanaman tahunan.

3)    Kompos

      Kompos merupakan sisa bahan organik yang berasal dari tanaman, hewan, dan limbah organik yang telah mengalami proses dekomposisi atau fermentasi. Jenis tanaman yang sering digunakan untuk kompos di antaranya jerami, sekam padi, tanaman pisang, gulma, sayuran yang busuk, sisa tanaman jagung, dan sabut kelapa. Bahan dari ternak yang sering digunakan untuk kompos di antaranya kotoran ternak, urine, pakan ternak yang terbuang, dan cairan biogas. Tanaman air yang sering digunakan untuk kompos di antaranya ganggang biru, gulma air, eceng gondok, dan azola. Beberapa kegunaan kompos adalah: 

a)    Memperbaiki struktur tanah. 
b)    Memperkuat daya ikat agregat (zat hara) tanah berpasir. 
c)    Meningkatkan daya tahan dan daya serap air. 
d)    Memperbaiki drainase dan pori - pori dalam tanah. 
e)    Menambah dan mengaktifkan unsur hara. 
     Kompos digunakan dengan cara menyebarkannya di sekeliling tanaman. Kompos yang layak digunakan adalah yang sudah matang, ditandai dengan menurunnya temperatur kompos (di bawah 400 c). 

4)    Humus

     Humus adalah material organik yang berasal dari degradasi ataupun pelapukan daun-daunan dan ranting-ranting tanaman yang membusuk (mengalami dekomposisi) yang akhirnya merubah humus menjadi (bunga tanah), dan kemudian menjadi tanah. Bahan baku untuk humus adalah dari daun ataupun ranting pohon yang berjatuhan, limbah pertanian dan peternakan, industri makanan, agro industri, kulit kayu, serbuk gergaji (abu kayu), kepingan kayu, endapan kotoran, sampah rumah tangga, dan limbah-limbah padat perkotaan. Humus merupakan sumber makanan bagi tanaman, serta berperan baik bagi pembentukan dan menjaga struktur tanah. Senyawa humus juga berperan dalam pengikatan bahan kimia toksik dalam tanah dan air. 
Selain itu, humus dapat meningkatkan kapasitas kandungan air tanah, membantu dalam menahan pupuk anorganik larut-air, mencegah penggerusan tanah, menaikan aerasi tanah, dan juga dapat menaikkan fotokimia dekomposisi pestisida atau senyawa-senyawa organik toksik. Kandungan utama dari kompos adalah humus. Humus merupakan penentu akhir dari kualitas kesuburan tanah, jadi penggunaan humus sama halnya dengan penggunaan kompos.

5)    Pupuk organik buatan

     Pupuk organik buatan adalah pupuk organik yang diproduksi di pabrik dengan menggunakan peralatan yang modern. Beberapa manfaat pupuk organik buatan, yaitu: 

a)    Meningkatkan kandungan unsur hara yang dibutuhkan tanaman. 
b)    Meningkatkan produktivitas tanaman. 
c)    Merangsang pertumbuhan akar, batang, dan daun. 
d)    Menggemburkan dan menyuburkan tanah. 

     Pada umumnya, pupuk organik buatan digunakan dengan cara menyebarkannya di sekeliling tanaman, sehingga terjadi peningkatan kandungan unsur hara secara efektif dan efisien bagi tanaman yang diberi pupuk organik tersebut.

2.    Pupuk Organik bukan pengganti pupuk anorganik

     Setelah memahami manfaat dan jenis-jenis pupuk organik, maka pertanyaan yang mungkin muncul di benak kita adalah “apakah pupuk organik merupakan pengganti dari pupuk anorganik?” Pertanyaan ini seringkali muncul seiring semakin tingginya animo masyarakat untuk menggunakan produk organik. Slogan “back to nature” sudah mulai ramai dibicarakan di masyarakat, khususnya masyarakat perkotaan yang memiliki kategori  kelas menengah ke atas. Seiring dengan kondisi tersebut, masyarakat juga semakin memiliki rasa keingin tahuan yang tinggi terkait penggunaan pupuk dalam proses produksi pertanian. Oleh karena itu, dibutuhkan jawaban yang cerdas sekaligus memberikan solusi atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.
     Budidaya pertanian organik memang sudah memungkinkan dilaksanakan untuk komoditas tertentu, misalnya tanaman hortikultura. Meskipun demikian tidak semua tanaman hortikultura dapat diperlakukan dengan menggunakan sistem pertanian organik murni. Hal ini sangat tergantung pada tingkat kesuburan tanah. Pengalaman yang dilaksanakan di Balai Besar Pelatihan Pertanian Batangkaluku, khususnya pada lahan pertanian organik menunjukkan bahwa jenis tanaman hortikultura yang dapat tumbuh dengan baik melalui sistem pertanian organik adalah terong, cabai, kangkung, sawi, mentimun dan seledri. Perlakuan yang diberikan adalah pada tahap awal sebelum ditanami ditaburkan pupuk organik sebanyak 10 ton perhektar, dan 2 ton/ha setiap selesai panen. Hasilnya adalah pertanaman tumbuh dengan sangat baik meskipun tidak menggunakan pupuk anorganik.
     Ada banyak keuntungan yang dapat diperoleh melalui sistem pertanian organik pada tanaman hortikultura, diantaranya adalah :
1)    Umur produksi tanaman lebih panjang
2)    Perakaran tidak dalam sehingga mudah dicabut saat masa produksi sudah tidak ekonomis
3)    Hasil produksi memiliki rasa lebih gurih dan renyah untuk beberapa jenis sayuran.
4)    Limbah tanaman lebih cepat lapuk.
       Sedangkan pada tanaman pangan khususnya pertanaman padi belum memungkinkan untuk dilaksanakan sistem pertanian organik secara menyeluruh. Apalagi dengan adanya program peningkatan produksi beras, maka yang terbaik dilakukan adalah melakukan pemupukan secara berimbang. Meskipun demikian, pada lokasi-lokasi yang tanahnya sudah memiliki kandungan unsur hara yang memadai, khususnya yang sudah memiliki C-organik di atas 5%, maka pertanian organik sudah memungkinkan untuk dilaksanakan. Tetapi jika menggunakan varietas hibrida, maka penggunaan pupuk anorganik tetap dibutuhkan. Hal ini karena padi hibrida membutuhkan nutrisi yang lebih tinggi dibandingkan dengan varietas non hibrida. 
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bahwa penggunaan pupuk organik saja tidak dapat meningkatkan produktivitas tanaman dan ketahanan pangan. Oleh karena itu sistem pengelolaan hara terpadu yang memadukan pemberian pupuk organik dan pupuk anorganik perlu digalakkan.  Sistem pertanian yang disebut sebagai LEISA (Low External Input and Sustainable Agriculture) menggunakan kombinasi pupuk organik dan anorganik yang berlandaskan konsep good agricultural practices perlu dilakukan agar degredasi lahan dapat dikurangi dalam rangka memelihara kelestarian lingkungan. Pemanfaatan pupuk organik dan pupuk anorganik untuk meningkatkan produktivitas lahan dan produksi pertanian perlu dipromosikan dan digalakkan. Program-program pengembangan pertanian yang mengintegrasikan ternak dan tanaman (crop-livestock) serta penggunaan tanaman legum baik berupa tanaman lorong (alley cropping) maupun tanaman penutup tanah (cover crop) sebagai pupuk hijau maupun kompos perlu diintensifkan.
Sedangkan pertanian yang hanya berfokus pada penggunaan pupuk anorganik sebagai input produksi tanpa menggunakan pupuk organik sebagai suplemen untuk memperbaiki hara tanah telah terbukti memberikan efek negatif terhadap kondisi tanah. Tanah menjadi keras sehingga memiliki aerasi yang rendah. Akibatnya pertanaman tidak bisa menyerap makanan yang tersedia dalam tanah dengan baik.

3.    Mengapa Pupuk Organik bisa menjadi Solusi Peningkatan Produksi Padi Nasional?

      Hasil penelitian di Kab. Selayar Provinsi Sulawesi Selatan yang dilakukan oleh Abd. Syukur (2011) Peneliti BPTP Makassar menunjukkan bahwa dengan input teknologi, telah terjadi peningkatan produksi padi secara signifikan, yaitu dari rata-rata 4 ton / ha menjadi 8,48 ton/ha. Adapun perlakuan teknologinya adalah :
1)    Perbaikan varietas dengan menggunakan verietas Impari 7, 8, dan 10.
2)    Tanam pindah dengan umur 16 – 20 hari. Artinya adalah tidak ada penanaman bibit yang sudah berusia         lebih dari 20 hari.
3)    Sistem tanam jajar legowo 2:1 dengan jumlah bibit perlubang antara 1-3 helai.
4)    Pemupukan berimbang, yaitu tepat dosis dan tepat waktu.
5)    Pengendalian hama terpadu.
     Secara umum digambarkan bahwa rata-rata produksi padi masyarakat sebelum adanya input teknologi adalah 4 ton/ha. Setelah diadakan input teknologi maka terjadi peningkatan produksi yang sangat bervariasi, yaitu 8 ton/ha, 8,48 ton/ha, 10,4 ton/ha dan 10,16 ton/ha. Adanya perbedaan jumlah produksi padi setelah diberikan input teknologi disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu :
1)    Produksi 8 ton/ha, perilaku petani biasanya pasrah. Artinya petani jarang melakukan penyiangan pada          lahan sawah.
2)    Produksi padi 8,4 ton/ha. Petani rajin melakukan penyiangan.
3)    Produksi 10,48 dan 10,16 ton/ha, sawah merupakan tempat berkumpulnya kerbau ketika musim pasca        panen.
    Dari keterangan tersebut dapat diketahui bahwa sawah yang biasa digunakan oleh petani untuk menyimpan ternak memiliki produksi yang lebih tinggi dibandingkan dengan sawah yang tidak biasa ditempati oleh ternak. Kenapa demikian? Karena sawah yang biasa ditempati ternak untuk makan/minum atau untuk istirahat memiliki kandungan bahan organik yang lebih baik dibandingkan sawah lainnya. Bahan organik ini dihasilkan dari kotoran ternak, baik kotoran padat maupun kotoran cair yang kemudian terdegradasi secara alami. Dengan demikian, maka salah satu tantangan yang menarik untuk dikaji lebih dalam lagi adalah apakah terdapat perbedaan yang signifikan pada kandungan c-organik tanah yang dijadikan lokasi penelitian?. Meskipun demikian, berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat diasumsikan bahwa tanah yang memiliki produksi lebih tinggi memiliki kandungan bahan organik lebih baik dibandingkan dengan tanah yang memiliki produksi lebih rendah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pemberian pupuk organik yang maksimal akan berdampak pada peningkatan kadar C-organik tanah. 
Terjadinya peningkatan kadar C-organik tanah akan mengakibatkan terjadinya peningkatan produksi padi. Dengan kata lain, pemberian pupuk organik secara maksimal pada lahan sawah akan meningkatkan produksi padi / beras nasional.

II.    PENUTUP

A.    Kesimpulan

1)    Dalam rangka  membangun pertanian yang berkelanjutan, maka hal utama yang harus dibangun adalah mindset petani terkait pentingnya penggunaan pupuk organik.
2)     Penggunaan pupuk anorganik secara terus menerus tanpa diimbangi dengan penggunaan pupuk organik akan mengakibatkan kerusakan pada tanah. 
3)    Pupuk organik memiliki peranan yang sangat besar dalam memperbaiki unsur hara tanah.
4)    Penggunaan pupuk organik dan anorganik secara berimbang disertai dengan input teknologi lainnya yang memadai akan meningkatkan produksi padi.
5)    Pupuk organik merupakan solusi dalam rangka peningkatan produksi padi nasional.

B.    Saran

1)    Sebaiknya setiap aparatur negara, khususnya yang terkait dengan bidang pertanian lebih fokus lagi dalam mensosialisasikan manfaat penggunaan pupuk organik.
2)    Pemberian hibah mesin pengolah pupuk organik kepada petani sebainya disertai dengan pembinaan berkelanjutan sehingga petani dapat memahami dan menyadari pentingnya penggunaan pupuk organik.

DAFTAR PUSTAKA

Andoko, Agus. 2007. Budidaya Padi Secara Organik. Jakarta: Penebar Swadaya
Anonim, Abdul Syukur. 2011. Input Teknologi pada Budidaya Padi di Kab. Selayar. BPTP Makassar.
Ibid. 2007. Metode Analisis Biologi Tanah, Bogor: Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian. 
Anonim, 2006. Sifat Fisik Tanah dan Metode Analisisnya, Bogor: Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian
Anonim, 2004. Pupuk Tanah Sawah dan Teknologi Pengelolaannya, Bogor, Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat.
Lingga, Pinus; Marsono. 2009. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Jakarta: Penebar Swadaya
http://id.wikipedia.org/wiki/Pupuk_organik


Jumat, 27 Desember 2013

Menjamin Kebutuhan Pokok Rakyat (Studi Kasus di Lampung)

Oleh: Akhiril fajri
Pengamat Sosial Ekonomi Lampung

Harga BBM, gas dan tarif dasar listrik (TDL) kini melambung tinggi dan kebutuhan pokok terus merangkak naik hingga masyarakat bawah makin terjepit hidupnya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung dan pedagang pasar selama 2012 – 2013, perkembangan harga makanan dan kebutuhan pokok lainnya terus bergerak naik. Beras naik sebesar 70 persen, kedelai meroket dari Rp6.150 menjadi Rp 9.350 (51,2 persen), jagung melonjak dari Rp1.100 menjadi Rp2.300, tepung terigu meningkat 83,14 persen, dan minyak goreng meningkat 83 persen. Sementara pertumbuhan ekonomi menurut Gubernur Lampung Sjahroedin ZP dibanggakan akan menaik. Padahal, pertumbuhan tidak menjamin terdistribusinya kesejahteraan.
Dalam sistem kapitalisme yang kini tengah diterapkan, kemajuan ekonomi ditentukan oleh besarnya investasi, pertumbuhan, dll. Akibatnya, yang diperhatikan adalah para pengusaha. Sebab, merekalah yang dipandang pencipta kemajuan ekonomi. Kondisi rakyat serba kekurangan tidaklah jadi ukuran. Secara teoretis, jika pertumbuhan ekonomi meningkat, maka kesejahteraan meningkat dan penyerapan lapangan pekerjaan pun meningkat pula. Tapi, realitas menunjukkan bahwa peningkatan pertumbuhan ekonomi di daerah lima tahun terakhir tidak diiringi oleh turunnya kemiskinan. Jumlah penduduk miskin terus bertambah.
Sebagai daerah agraris, lonjakan harga kedelai, minyak goreng, dan lain-lain, seharusnya tak perlu terjadi. Namun apa daya, kini Lampung mengimpor komoditas tersebut. Bahkan tidak hanya kedelai, sebagian besar hasil pertanian juga diimpor dari negara lain seperti beras, gula, daging ayam, daging sapi, bahkan garam. Data yang terungkap dari Badan Ketahanan Pangan Provinsi Lampung menyebutkan bahwa produksi bahan pangan pokok tersebut tidak mampu menutupi kebutuhan masyarakat. Tahun ini, beras masih mengimpor sekitar 1 juta ton, impor gula setiap tahun sekitar 400-500 ribu ton, dan impor daging sekitar 450-500 ribu ekor sapi.
Mengapa kebutuhan pangan tidak sanggup dipenuhi sendiri? Ada berbagai faktor yang menyebabkannya. Pertama, produktivitas tanaman pangan yang masih rendah dan terus menurun. Rata-rata produktivitas padi adalah 4,4 ton per/ha, jagung 3,2 ton/ha, dan kedelai 1,19 ton/ha. Jika dibandingkan dengan negara produsen pangan lain di dunia, khususnya beras, produktivitas padi di Lampung masih jauh dari harapan. Australia memiliki produktivitas rata-rata 9,5 ton/ha, Jepang 6,65 ton/ha, dan Tiongkok 6,35 ton/ha (Hutapea dan Mashar).
Kedua, keberpihakan pemerintah daerah Lampung terhadap pertanian yang menyediakan kebutuhan pangan sering kalah oleh industri atau pertanian berorientasi ekspor yang menghasilkan devisa untuk membiayai impor. Sebagai contoh, Lampung merupakan salah satu produsen CPO (crude palm oil) terbesar di dunia dengan produksi sekitar 43,82 persen dari total produksi dunia dan sebanyak 76,39 persen diekspor. Akibatnya, kebutuhan dalam negeri berkurang atau tidak terpenuhi dan akhirnya langka. Ujung-ujungnya, harga minyak goreng pun melonjak naik seperti saat ini. Hal ini menunjukkan kebijakan pemerintah  mengutamakan market friendly daripada people friendly dan tidak memiliki kemandirian kecuali ketergantungan kepada pasar dan asing.
Ketiga, Bank Dunia, IMF, dan lembaga-lembaga bantuan internasional lainnya terus mendesak negara-negara berkembang untuk meningkatkan ekspornya demi kelancaran pembayaran bunga dan cicilan utangnya. Sejak International Moneter Fund (IMF) memangkas fungsi BULOG, perusahaan pelat merah itu hanya menangani komoditas beras. Sedangkan komoditas pangan pokok lainnya diserahkan mekanisme pasar. Buntutnya, ketika harga komoditas pangan seperti gula, minyak goreng, kedelai, dan kebutuhan pokok lainnya bergerak liar, pemerintah selalu keteteran menahan laju kenaikan harga.
Keempat, peningkatan luas areal penanaman-panen yang stagnan bahkan terus menurun, khususnya di lahan pertanian pangan produktif di Pulau Sumatera, Khususnya Lampung. Untuk kasus kedelai, luas panen sejak 2012 sampai 2013 terus menurun. Pada 2012 memiliki luas panen sebesar 621.541 hektare menjadi 464.427 hektare pada 2013. Alih fungsi lahan pertanian tak bisa dikendalikan. Sejak 2012 sampai 2013 saja, luas lahan pertanian menyusut dari 8.400.030 hektare menjadi 7.696.161 hektare.
Apa sebenarnya tujuan didirikan suatu negara/pemerintah, khususnya di daerah? Di antara tujuan terpenting adalah menyejahterakan rakyat. Landasan terwujudnya kesejahteraan rakyat adalah terpenuhinya kebutuhan pokok setiap individu rakyat. Ajaran Islam tidak menyetujui gedung pencakar langit di mana-mana, tetapi rakyat sengsara; stadion olahraga megah bertaraf internasional tetapi busung lapar dan gizi buruk tak kunjung usai; mobil mewah berseliweran tapi masih banyak rakyat untuk makan hari ini saja susah bukan kepalang. Islam sangat mendorong kemajuan dan pertumbuhan. Tapi, keduanya bukanlah landasan. Yang lebih didahulukan adalah bagaimana setiap orang terpenuhi kebutuhan pokoknya. Inilah yang menjadi konsen pertama. Setelah itu, baru mengusahakan tercapainya berbagai macam ’’kemajuan” secara kolektif.
Allah Swt. menegaskan macam kebutuhan pokok yang harus terpenuhi pada setiap individu. Firman-Nya, ’’Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf”(TQS. Al-Baqarah: 233). Di dalam ayat yang lain disebutkan, ’’Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu” (TQS. Ath-Thalaq :6). Kedua ayat ini dan ayat-ayat senada lainnya menunjukkan bahwa kebutuhan pokok setiap individu rakyat adalah makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Berdasarkan hal ini, politik ekonomi Islam merupakan politik ekonomi yang berpihak kepada kebutuhan rakyat. Tidak boleh seorang pun terabaikan kebutuhan pokoknya. Karena itu, indikator utama maju tidaknya perekonomian bukanlah pertumbuhan, inflasi, dll. Tapi, melainkan berapa banyak pengangguran, berapa jumlah penduduk yang tidak memiliki tempat tinggal layak, berapa jumlah orang yang tidak dapat makan layak, dan berapa penduduk yang pakaiannya jauh dari kepatutan.
Untuk itu, setiap orang harus didorong, diberi kemampuan (skill) untuk dapat memenuhi kebutuhan pokok tersebut. Oleh karena itu, pemerintah wajib memperhatikan pada terpenuhinya kebutuhan pokok setiap individu warga. Di samping memberikan peluang yang sama untuk dapat memenuhi kebutuhan sekunder dan tersier. Tidak boleh ada warga yang terkena busung lapar dan gizi buruk, atau jungkir balik hanya sekadar untuk makan sehari sekali.
Ketahanan pangan merupakan salah satu masalah strategis yang hukumnya wajib diperhatikan penguasa, terutama dalam upaya memenuhi kebutuhan masyarakat. Ketahanan pangan juga menjadi bagian dari kekuatan negara untuk menjaga kedaulatan negara dari intervensi asing. Bukan hanya itu. Pangan kini menjadi alat politik bangsa-bangsa Barat guna mempengaruhi situasi politik suatu negara.
Karena itu, ketahanan pangan yang tangguh harus didukung dengan kekuatan politik suatu bangsa. Pemerintah harus mempunyai sistem politik pertanian yang juga didukung dengan teknologi peningkatan produksi. Islam sebagai sebuah solusi persoalan umat sangat memperhatikan sistem politik pertanian.
Pada dasarnya, politik pertanian dalam Islam dijalankan untuk meningkatkan produksi pertanian, sehingga dapat memenuhi kebutuhan pokok masyarakat. Pilihan tata cara peningkatan produksi merupakan hal yang mubah/boleh untuk ditempuh. Tentu, pilihan cara peningkatan produksi harus dijaga dari unsur dominasi dan dikte asing, serta mempertimbangkan kelestarian lingkungan ke depan. Untuk itu, peningkatan produksi dalam pertanian biasanya menempuh dua jalan: intensifikasi (peningkatan) dan ekstensifikasi (perluasan).
Intensifikasi pertanian dicapai dengan meningkatkan produktivitas lahan yang sudah tersedia. Pemerintah dapat mengupayakan intensifikasi dengan pencarian dan penyebarluasan teknologi budi daya terbaru di kalangan para petani, membantu pengadaan mesin-mesin pertanian, benih unggul, pupuk, serta sarana produksi pertanian lainnya. Sekali lagi, pilihan atas teknologi serta sarana produksi pertanian yang digunakan harus berdasarkan iptek yang dikuasai, bukan atas kepentingan industri pertanian asing. Dengan begitu, ketergantungan pada –serta intervensi oleh– pihak asing dalam pengelolaan pertanian negara dapat dihindarkan. Sebagai contoh, seandainya saja pemerintah mau melirik benih kedelai ’’plus”, hasil temuan Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Lampung sejak tahun 2012-2013 yang mampu berproduksi dua kali lipat. Jika rata-rata produksi kedelai per hektare adalah 1,2 ton per hektare, maka kedelai plus mampu berproduksi 2,6 ton per hektare. Tentu permasalahan kekurangan pasokan kedelai akan terselesaikan secara mandiri. Kemudian masalah pupuk, pemerintah tidak boleh mengambil kebijakan untuk mengekspor pupuk sebelum kebutuhan pupuk dalam negeri terpenuhi dengan baik dan tidak terjadi kelangkaan pupuk di setiap daerah.
Dalam permasalahan permodalan, negara harus memberikan modal yang diperlukan bagi yang tidak mampu sebagai hibah, bukan sebagai utang. Umar bin al-Khaththab pernah memberikan kepada para petani di Irak harta dari Baitul Mal yang bisa membantu mereka untuk menggarap tanah pertanian serta memenuhi hajat hidup mereka, tanpa meminta imbalan dari mereka. Di samping itu, negara harus melindungi air sebagai milik umum dan sebagai input produksi pertanian. Karena itu, air berikut sarana irigasinya tidak boleh diswastanisasi. Tapi, mengapa pemerintah memberikan kebebasan kepada swasta untuk mengelola sumber daya air (barang milik umum) dengan terbitnya UU SDA Air.
Adapun ekstensifikasi pertanian dapat dicapai dengan; pertama, mendorong pembukaan lahan-lahan baru serta menghidupkan tanah mati. Lahan baru dapat berasal dari lahan hutan, lahan lebak, lahan pasang-surut, dan sebagainya sesuai dengan peraturan negara. Tanah mati adalah tanah yang tidak tampak dimiliki oleh seseorang dan tidak tampak bekas-bekas apa pun seperti pagar, tanaman, pengelolaan, ataupun yang lainnya. Menghidupkan tanah mati itu artinya mengelola tanah atau menjadikan tanah tersebut menjadi siap untuk langsung ditanami.
Di Lampung, kini jumlah lahan kering sebesar 11 juta hektare, yang sebagian besar berupa lahan tidur. Jenis lahan lain yang masih potensial adalah pemanfaatan lahan lebak dan pasang-surut. Luas lahan pasang-surut dan lebak di Lampung diperkirakan mencapai 20,19 juta hektare dan 9,5 juta hektare berpotensi untuk pertanian. Lahan-lahan yang baru dibuka biasanya menghadapi berbagai kendala untuk menjadi lahan pertanian, seperti keragaman sifat fisiko-kimia dan biofisik. Oleh karena itu, diperlukan upaya yang serius oleh pemerintah untuk mengoptimalkannya dengan mencari dan menerapkan teknologi budi daya.
Kedua, setiap orang yang memiliki tanah akan diperintahkan untuk mengelola tanahnya secara optimal. Bagi siapa saja yang membutuhkan (biaya perawatan) akan diberi modal dari Baitul Mal, sehingga yang bersangkutan bisa mengelola tanahnya dengan optimal. Namun, apabila orang yang bersangkutan mengabaikannya selama tiga tahun, maka tanah tersebut diambil dan diberikan kepada yang lain. Umar bin al-Khaththab r.a. pernah mengatakan, ’’Orang yang memagari tanah tidak berhak (atas tanah yang dipagarinya) setelah (membiarkannya) selama tiga tahun.” Sehingga tidak ada lagi tanah yang tidak produktif atau kosong.
Sebab itu, dalam pandangan Islam, negara/pemerintah daerah Lampung –sebagaimana dalam Khilafah Islam- harus memperhatikan peningkatan produktivitas pertanian, pembukaan lahan-lahan baru, dan penghidupan tanah mati, serta melarang terbengkalainya tanah. Di samping itu, pemerintah harus mencegah masuknya tangan-tangan asing dalam pengelolaan bidang pertanian ini, baik lewat industri-industri pertanian asing maupun lewat perjanjian multilateral WTO. Dengan demikian, terdapat jaminan produksi yang terus berlangsung dan meningkat sehingga terjamin pula pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat di Lampung. Insyaallah. Wallahualam

Hari Pangan Sedunia 16 Oktober: Pangan dan Bangsa Kurang Gizi

Oleh: Siti Nuryati, S.TP, M.Si
Penerima Penghargaan Menko Kesra RI atas Gagasan Pengentasan Kemiskinan dan Kearifan Lokal (2008).  Alumnus Pascasarjana Gizi Masyarakat IPB
Di momen Hari Pangan Sedunia (HPS) 16 Oktober tahun ini kita masih saja menelan fakta pahit dimana saat ini Indonesia berada di peringkat kelima negara dengan kekurangan gizi sedunia. Jumlah balita yang kekurangan gizi di Indonesia saat ini sekitar 900 ribu jiwa. Jumlah tersebut merupakan 4,5 persen dari jumlah balita Indonesia, yakni 23 juta jiwa. Daerah yang kekurangan gizi tersebar di seluruh Indonesia, tidak hanya daerah bagian timur Indonesia.  Tema HPS tahun ini pun sangat cocok dengan situasi pangan dan gizi di Indonesia, yakni Sistem Pangan yang Berkelanjutan bagi Ketahanan Pangan dan Gizi (Sustainable Food Systems for Food Security and Nutrition).
Fakta ini mestinya menyadarkan para pemimpin negeri ini untuk melihat kembali kebijakan pembangunan yang selama ini digulirkan yang ternyata masih menyisakan kelaparan dimana-mana.  Bicara pangan adalah bicara soal hidup atau mati.  Bicara pangan tentu tak lepas dari bicara soal gizi.  Karena apalah artinya makan kalau bukan dalam rangka memenuhi asupan gizi bagi tubuh agar dapat hidup sehat dan produktif.
Berbicara pembangunan, sejak 1990-an sebenarnya sudah mulai disadari bahwa sumberdaya manusia (SDM) menjadi kata kunci pembangunan, terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia.  Makin disadari bahwa investasi pembangunan tidak lagi terbatas pada sarana dan prasarana ekonomi untuk membangun industri, gedung, jalan, jembatan, pembangkit listrik, irigasi, perkebunan dan sebagainya.  Pembangunan ekonomi memang perlu, tetapi itu saja tidak cukup.  Perlu diberikan catatan bahwa pembangunan ekonomi baru dikatakan bermanfaat jika setiap individu rakyat dapat hidup sejahtera dimana salah satu indikatornya adalah terpenuhinya kebutuhan pangan.
Tragedi kekurangan pangan dan gizi kini jelas akan mengancam kesehatan, kecerdasan, bahkan kelangsungan hidup generasi bangsa ini.  Faktor yang menyebabkan kurang gizi telah diperkenalkan UNICEF dan telah digunakan secara internasional, baik penyebab langsung, tidak langsung, akar masalah dan pokok masalah. Penyebab kurang gizi: Pertama, penyebab langsung yaitu makanan anak dan penyakit infeksi yang diderita anak. Penyebab gizi kurang tidak hanya disebabkan makanan yang kurang tetapi juga karena penyakit. Anak yang mendapat makanan yang baik tetapi karena sering sakit diare atau demam  dapat menderita kurang gizi. Demikian pada anak yang makannya tidak cukup baik, maka daya tahan tubuh akan melemah dan mudah terserang penyakit. Kenyataannya baik makanan maupun penyakit secara bersama-sama merupakan penyebab kurang gizi.
Kedua, penyebab tidak langsung yaitu ketahanan pangan di keluarga, pola pengasuhan anak, serta pelayanan kesehatan dan kesehatan lingkungan. Ketahanan pangan adalah kemampuan keluarga untuk memenuhi kebutuhan pangan seluruh anggota keluarga dalam jumlah yang cukup dan baik mutunya. Pola pengasuhan adalah kemampuan keluarga untuk menyediakan waktunya, perhatian dan dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal baik fisik, mental, dan sosial. Pelayanan kesehatan dan sanitasi lingkungan adalah tersedianya air bersih dan sarana pelayanan kesehatan dasar yang terjangkau oleh seluruh keluarga.
Faktor-faktor tersebut sangat terkait dengan tingkat pendidikan, pengetahuan, dan ketrampilan keluarga. Makin tinggi pendidikan, pengetahuan dan ketrampilan terdapat kemungkinan makin baik tingkat ketahanan pangan keluarga, makin baik pola pengasuhan anak dankeluarga makin banyak memanfaatkan pelayanan yang ada. Ketahanan pangan keluarga juga terkait dengan ketersediaanpangan, harga pangan, dan daya beli keluarga, serta pengetahuan tentang gizi dan kesehatan.
Ketahanan pangan mengandung arti memiliki pangan yang cukup untuk mempertahankan kehidupan yang sehat dan produktif, baik hariini maupun di masa mendatang. Masyarakat dikatakan memiliki ketahanan pangan apabila semua anggota keluarga memiliki akses terhadap makanan dalam jumlah yang cukup dan mutu yang baik, dengan harga terjangkau, dapat diterima dan selalu tersedia secara lokal/dalam negeri secara berkelanjutan.
Kenyataannya saat ini ketahanan pangan masyarakat kita rapuh.  Kelompok rentan yang akan pertama kali menjadi korban kerawananpangan adalah anak-anak.  Tak ada yang menyangkal bahwa usia balita merupakan periode paling kritis dalam kehidupan manusia karena secara fisik terjadi perkembangan tubuh dan ketrampilan motorik yang sangat nyata.  Peristiwa pertumbuhan pada anak dapat terjadi perubahan besar, jumlah, dan ukuran di tingkat sel, organ, maupun individu.  Sedangkan peristiwa perkembangan pada anak dapat terjadi pada perubahan bentuk dan fungsi pematangan organ mulai dari aspek sosial, emosional, dan intelektual.
Sekadar contoh, apa yang terjadi di Banjarnegara.  Penelitian Soblia (2009) menelisik hubungan tingkat ketahanan pangan rumah tangga, kondisi lingkungan dan morbiditas dengan status gizi anak balita di wilayah tersebut menemukan masalah kesehatan yang terkategori tinggi/serius yang berdampak pada status gizi balita.  Sebanyak 51,7% rumah tangga di wilayah ini memiliki kondisi sanitasi dan kesehatan fisik lingkungan yang kurang memadai.  Selain soal kesehatan, ditemukan sebesar 69% rumah tangga tergolong rawan pangan.  Berdasar garis kemiskinan BPS ada 39% rumah tangga di wilayah penelitian terkategori miskin.  Angka kemiskinan ini akan membesar menjadi 97,6% ketika menggunakan garis kemiskinan versi Bank Dunia.  Ini berarti, kemiskinan dan buruknya kondisi sanitasi berdampak pada status gizi keluarga di wilayah tersebut.  Kondisi ini sangat nyata terlihat dengan tingginya angka kejadian balita “wasting” yang masuk dalam kategori “serious emergency situation”.  Kita tahu Banjarnegara merupakan daerah di tanah air yang memiliki riwayat kurang pangan di tahun 1930-1940, terulang di tahun 1961-1962, terulang kembali di tahun 2004-2006.  Kini di saat harga panganterus mendaki, riwayat kurang pangan kembali mendera daerah-daerah ini.
Pertanyaannya kemudian, bagaimana kita bisa memenuhi makanan yang bergizi, beragam dan berimbang jikalau daya beli masyarakat rendah?  Indonesia memiliki lahan luas dan subur, berlimpah cahaya matahari sepanjang tahun  dan tak kurang siraman hujan.  Namun mengapa bisa terdengar kekurangan pangan di mana-mana?  Pastilah ada yang salah pada kita.  Salah satunya, pemerintah salah kaprah karena telah habis-habisan mengejar industrialisasi seraya melupakan pertanian.  Yang terjadi kini, kita gagal menjadi negara industri, sementara alam terlanjur rusak, pertanian terbengkalai, dan kita telah masuk dalam jebakan pangan (food trap) negara lain.  Selera makan kita pun berubah.  Kini banyak orang lebih suka menyantap roti yang gandumnya tak tumbuh di Indonesia ketimbang singkong yang tanamannya tumbuh subur di pekarangan kita.
Mengingat ancaman krisis pangan terus meningkat, maka upaya meningkatkan ketahanan pangan nasional tak bisa ditunda-tunda lagi.  Pemerintah harus segera melakukan perbaikan besar-besaran di sektor pertanian dan pengolahan pangan agar jutaan penduduk negeri ini yang berada dalam ancaman kekurangan pangan dan gizi dapat kita selamatkan. Tak hanya itu, akses terhadap pelayanan kesehatan, sanitasi lingkungan yang terjaga, akses air bersih juga menjadi “pekerjaan rumah” pemerintah.  Dan yang tak kalah pentingnya adalah soal pendidikan yang jika tidak dibenahi akan terus melahirkan lingkaran setan yang tiada berujung. Rendahnya pendidikan berpotensi melahirkan kemiskinan.  Sementara kemiskinan akan menjatuhkan pada potensi gizi buruk.  Dan gizi buruk jelas akan menggerus SDM bangsa.
*Dimuat di Harian Kontan, tanggal 16 Okt0ber 2013

Kamis, 17 Oktober 2013

Gambar Berbicara Tentang SUBUR Asam Amino, ZPT Organik + Pupuk Organik

Probolinggo :
Gabah panen kering sawah yang menggunakan subur : Bening & Bernas
 Kedelai Surya: Pak Marsaim Bangsal Mojokerto, tinggi tanaman mencapai dada p Marsaim
 Kedelai, Lokasi Betro Kemlagi Bpk Gunawan, Buah lebat.... Subur memang Hebat
 Semangka Bpk Woliyo Ds Sawo Jetis Mojokerto, daun Halus, lebar, buah besar... Subur memang Oke
 Pak bayan Gedeg Mojokerto padi Subur, tanpa pestisida... tanaman masih oke
 Beginilah Padinya Pak Bayan Gedeg Mojokerto Setelah masa pembuahan, gambar di belakangnya p bayan tidak menggunakan Subur, Cukup signifikan Bukan?
 Kangkung untuk produksi benih Bpk Suprapto Ngabar, daun lebar halus, otomatis buah lebat
 Sawi di daerah Pacet Mojokerto, Memang Lebih baik menggunakan Subur, tanaman lebih bagus, otomatis panen melimpah, keuntungan juga semakin banyak
 Ketela Rambat daerah Pacet Mojokerto, sulur semakin banyak, daun lebar, halus, hasil akhir ternyata umbinya lebih besar di banding tanaman tanpa Subur
 Mentimun Daerah Ds penanggal Candi puro Lumajang, Tanaman sehat, buah lebat panen meningkat
Mentimun Bpk Rusdik Candipuro Lumajang, Buah lebih besar, lebat
Kedelai di bangsal Mojokerto, Buah lebat panen melimpah, tanaman tanpa pestisida
Padi di banyuwangi yang menggunakan SUBUR 
Bayam Merah Sukorame Lamongan
Bayam Hijau Sukorame Lamongan
Cabe Rawit Guci Alit Lumajang
 Padi Jarit Lumajang
Tomat Candipuro Lumajang
Padi yang menggunakan SUBUR di Balung Panggang Gresik
Kangkung untuk Benih Panah Merah Kesamben Jombang
 Tembakau Kabuh Jombang
 Mentimun Perak Jombang
Jagung P21 Sukorame Lamongan
Kangkung untuk benih Wringin anom Gresik