Sabtu, 05 Desember 2009

Pestisida Buatan Sendiri

Pestisida organik adalah bagian dari pertanian berkelanjutan yang saat ini dikembangkan. Supaya pertanian kita berkelanjutan, tidak menciptakan ketergantungan dan tidak merusak lingkungan maka jangan terlalu mengunakan pestisida dan pupuk kimia dari pabrik dalam bertani.
Dalam produksi pertanian tidak terlepas dari yang namanya faktor produksi. Salah satu faktor produksi adalah pengunaan pestisida untuk membasmi hama yang menyerang tanaman budidaya petani. Pada masa pendudukan Indonesia, petani terbiasa mengunakan pestisida kimia dari pabrik yang sebenarnya sangat potensial merugikan lingkungan dan kesehatan petani. Dan juga secara ekonomis biaya produksi sangat tinggi. Pada era kemerdekaan yang sedang gencar mengembangkan sistem pertanian organik atau pertanian berkelanjutan, kita harus mengunakan pestisida organik.
Dalam sistem pertanian berkelanjutan, diharapkan petani mengunakan pestisida organik karena ramah lingkungan dan tidak menimbulkan dampak negatif lainnya. Kita menghindari pengunaan pestisida kimia dari pabrik untuk memberantas hama karena banyak faktor negatifnya seperti pencemaran lingkungan dan juga mempengaruhi kesuburan tanah. Jadi jangan hanya dilihat sebagai pemberantas hama yang menyerang tanaman. Pemberantasan hama dengan mengunakan pestisida kimia dalam konsentrasi yang tinggi akan meresap kedalam tanaman dan tidak bisa hilang yang disebut residu. Residu (zat sisa) bahan kimia yang terserap dalam tanaman berbahaya bagi kesehatan manusia yang mengkonsumsinya. Walaupun tidak secara langsung menimbulkan sakit (penyakit) pada saat mengkonsumsi hasil pertaniannya, tetapi akan menimbulkan berbagai penyakit di kemudian hari setelah manusia itu lanjut usia. Pestisida kimia tidak hanya mengancam kesehatan manusian melalui resido, akan tetapi juga secara ekonomis petani harus mengeluarkan biaya yang lebih untuk membelinya di pabrik. Dan juga akan memciptakan ketergantungan bibit tanaman yang terbiasa mengunakan pestisida kimia, kalau tidak lagi mengunakan pestisidanya maka akan memberikan pertumbuhan yang tidak baik dan produksi tanaman yang rendah. Ketergantungan yang lebih parah lagi adalah para pengusaha yang mempunyai pabrik pestisida kimia bisa mengendalikan harga hasil pertanian sesuai dengan keinginannya karena produksi hasil pertanian petani tergantung dari pestisida yang mereka hasilkan. Kalau terjadi demikian maka petani hanya sekedar pekerja atas tanahnya sendiri untuk kepentingan pengusaha pestisida kimia dan pupuk kimia yang tidak pernah bekerja di sawah dan kebun.
Tetapi yang menjadi persoalan sekarang adalah bagaimana supaya kita sebagai petani terhindar dari pengunaan pestisida kimia dalam memberantas hama yang sekarang menjadi persoalan kita. Untuk itu, harus mencari jalan keluar atau alternatif lain untuk bisa mengatasi masalahnya. Selama ini sudah banyak NGO yang memberdayakan petani untuk hidup mandiri dan tidak tergantung pada orang lain telah mencari alternatif pemecahan yang disesuaikan dengan kondisi sumberdaya alam yang ada. Sebenarnya, membasmi hama tidak selalu mengunakan pestisida kimia yang sangat merugikan itu. Tetapi kita bisa menghindari hama dengan pengolahan tanah yang baik karena tanah yang bersih/sehat akan menghasilkan tanaman sehat pula; Pengunaan bibit atau benih lokal yang sudah beradaptasi dengan lingkungan kita yang relatif tahan terhadap hama; Dan mengunakan pola tanam campuran atau tumpan sari. Kalau terpaksa harus mengunakan pestisida maka bisa mengunakan pestisida organik buatan oleh petani dengan memamfaatkan kekayaan alam sendiri.
Sebenarnya hal pembuatan pestisida organik sendiri tidaklah susah, tergantung dari kreatifitas para petani sendiri setelah mengetahuinya. Sebab sudah banyak kali Perkumpulan HAK bersama kelompok tani dampingan seperti di Subdistrik Luro, Distrik Lautem dan Subdistrik Alas, Distrik Manufahi mengatasi hama dengan membuat pestisida organik buatan sendiri. Pestisida organik ini dibuat dari tumbuh-tumbuhan yang ada di lingkungan kita. Hal ini sangat baik diikuti oleh semua petani di seluruh Timor Lorosae karena semua bahan yang digunakan untuk membuat pestisida organik terdapat di alam kita sendiri. Bahan-bahan baku pembuatan pestisida organik itu seperti dedaunan, bunga dan biji, batang, akar dan umbi-umbian tanaman yang pahit.
Daun, batang, akar dan umbi tanaman yang sering digunakan oleh petani dampingan selama ini untuk membuat pestisida organi antara lain: (a) Jenis dedaunan misalnya: daun mindi, mahoni, surem, daun ai-hanek, daun tuba, daun sirsak, daun siri, daun tembako, daun bunga paitan, daun ai-kalik dan dedaunan pahit lainnya. (b) Umbi-umbian, misalnya: Umbi gadung (kuan kout), Umbi Laos, Maek Katar. (c) Jenis batang dan akar seperti tuha, Bauk moruk, akar mahoni, batang bunga paitan. (d) Bunga dan Biji seperti: biji sirsak, biji nyamplon (sampalo), lombok, bunga kenikir, mekar sore, brontoali dan bunga paitan. Bahan-bahan untuk membuat pestisida organik tidak hanya yang disebutkan diatas tetapi masih banyak jenis ragamnya di Timor Lorosae yang belum teridentifikasi.
Pembuatan pestisida organik secara alamiah dengan mengunakan tumbuh-tumbuhan di atas sangat mudah. Tingal kreatifitas dan ketekunan petani mencoba mengerjakan dengan memamfaatkan semua sumberdaya alam yang kita miliki untuk kebutuhan kita. Pestisida organik buatan sendiri ini juga tidak menimbulkan efek sampin terhadap lingkungan dan tidak ada resido yang terserap dalam tanaman karena tidak mencampur dengan bahan kimia. Secara ekonomis petani tidak mengeluarkan biaya yang lebih tinggi dalam proses pembuatannya karena bahannya mudah didapatkan (sudah tersedia di alam sekitar kita). Dan dalam proses pembuatan pestisida organik juga hanya mengunakan alat-alat yang sudah dimiliki petani seperti: parang, pisau, lingis, ember dan alat penumbuk tradisional lainnya. Serta dalam proses itu juga petani bisa memamfaatkan limbah-limbah tertentu yang dibutuhkan tanpa mengeluarkan biaya seperti botol plastik Aqua, botol dan kaleng lainya yang bisa digunakan untuk menyimpang pestisida hasil buatan maupun prosesnya.
Cara membuat pestisida organikCara pembuatannya sederhana, tidak membutuhkan teknik yang sulit sehingga bisa dibuat oleh semua petani yang ada di Timor Lorosae kalau membutuhkannya.

Langkah-langkanya sebagai berikut:
1. Mengumpulkan semua bahan yang telah disebutkan di atas baik jenis daun-daunan, bunga dan biji, batang-batangan dan umbi-umbian. Jumlah bahan yang diambil sesuai dengan kebutuhan.
2. Semua jenis bahan ditumbuk, digerus sesuai dengan bahan sampai hancur dengan mengunakan alat tumbuk yang dimiliki petani. Tiap jenis bahan yang mau digunakan harus ditumbuk atau digerus secara sendiri-sendiri.
3. Hasil tumbukan atau gerusan dicampur dengan air secukupnya sesuai dengan jumlah bahan yang ditumbuk, kemudian diaduk sampai rata dalam ember atau bak pengaduk lainya. Dan tiap adukan disimpan di tempat yang teduh (dari sinar matahari maupun air hujan) minimal selama 24 jam lamanya.
4. Campuran yang telah disimpan itu kemudian diperas dan disaring airnya, kemudia diisi dalam botol plastik atau kalen bekas apa saja yang bisa dimamfaatkan untuk disimpan.
Air perasan bahan-bahan itu merupakan pestisida yang siap digunakan sesuai dengan kebutuhan petani. Setiap bahan bisa digunakan sendiri-sendiri untuk memberantas hama yang menyerang tanaman kita, misalnya untuk untuk memberantas hama tikus dan lainya mengunakan bauk moruk dan tuha. Dan juga untuk hama tertentu bisa mengunakan campuran satu sama lain untuk memberantas atau menyemprotkan pada hama yang menyerang tanaman. Misalnya hama wereng pada tanaman padi bisa memakai campuran hasil air rendaman bungga paitan dengan bunga kinikir yang telah diperas. Bisa juga kita mencoba mengunakan jenis yang ada secara sendiri-sendiri untuk mengatasi hama yang menyerang tanaman kita. Sebelum mengunakan, ukuran campuran dengan air tidak tetap, semuanya disesuaikan dengan kebutuhan dengan menambah konsentrasi (jumlah) pestisida yang digunakan sampai bisa menjawab persoalan yang kita hadapi.Bagi para petani yang selama ini mengalami masalah dalam memberantas hama, maka sekarang saatnya mencoba dan mengunakan pestisida organik buatan sesuai dengan kebutuhan. Kami yakin akan bisa membantu menjawab persoalan yang dihadapi dengan tidak mengeluarkan biaya produksi yang terlalu tinggi untuk membeli pestisida kimia dari pabrik.

Selasa, 24 November 2009

Membenahi Tanah

'Kini, jumlah bahan organik di tanah seluruh Indonesia rata-rata hanya tinggal 2%,' kata Dr Ir Achmad Rachman, kepala Balai Penelitian Tanah, Bogor. Jumlah itu sepertiga dibanding 20 tahun lalu, yang nilainya 6,8%. Dampaknya, hasil produksi tanaman yang dibudidayakan rendah. Produksi meningkat bila pekebun memupuk berkali-kali lipat. Namun, itu pun berdampak buruk: tanah rusak.
'Kini, jumlah bahan organik di tanah seluruh Indonesia rata-rata hanya tinggal 2%,' kata Dr Ir Achmad Rachman, kepala Balai Penelitian Tanah, Bogor. Jumlah itu sepertiga dibanding 20 tahun lalu, yang nilainya 6,8%. Dampaknya, hasil produksi tanaman yang dibudidayakan rendah. Produksi meningkat bila pekebun memupuk berkali-kali lipat. Namun, itu pun berdampak buruk: tanah rusak.
Menurut Dr Ir Suwardi, periset Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, IPB, tanah yang produktivitasnya rendah dipastikan tanah sakit. Tanah sakit tidak bisa menyediakan unsur hara yang dibutuhkan tanaman. 'Salah satu parameter sehat atau sakitnya tanah adalah kandungan bahan organik,' kata Suwardi. Tanah berbahan organik tinggi memperlihatkan struktur gembur, mudah menyerap air, dan kapasitas tukar kation (KTK) tinggi. KTK diukur dengan cara mengekstraksi tanah dengan larutan NH4OAc.
Kapasitas tukar kation menjadi ciri utama tingkat kesuburan tanah. Jika nilainya tinggi, kemampuan tanah untuk menyerap dan melarutkan unsur hara semakin tinggi. Misalnya, tanah dipupuk Urea. Urea di dalam tanah bakal membentuk ion amonium (NH4+). Jika ion tidak diikat oleh tanah maka terbuang percuma lewat air irigasi.
Dibenahi
Agar tanah tetap sehat, Suwardi menganjurkan setelah panen lakukan pembenahan. 'Tanah setelah ditanami, unsur haranya berkurang. Makanya jika tidak dibenahi kemampuannya untuk berproduksi menjadi rendah,' kata doktor alumnus Tokyo Agricultural University, Jepang itu. Pembenah tanah tak hanya berupa memperbaiki secara fisik saja, tapi juga kimia dan biologi.
Yang terakhir bisa dilakukan dengan meningkatkan kadar oksigen terlarut dalam air irigasi, menjaga keseimbangan pH tanah, mengikat logam berat yang bersifat racun bagi tanaman seperti Pb dan Cd. Mengikat kation dari unsur dalam pupuk misalnya NH4+ dari Urea K+ dari KCl, sehingga penyerapan pupuk menjadi efisien, dan meningkatkan KTK tanah.
Berdasarkan keputusan Menteri Pertanian No. 2 tahun 2006, nilai kapasitas tukar kation harus lebih besar daripada 80 C mol/kg dengan pH 4. Sedangkan kadar logam harus rendah misal astatin sebesar 10 ppm, air raksa (1 ppm), plumbum (50 ppm), dan cadmium (10 ppm).
Yang paling penting, bahan pembenah tersedia di dekat lahan, berharga murah, dan dampak negatifnya rendah. Di pasaran terdapat pembenah tanah yakni yang sifatnya sintesis dan alami. 'Lebih baik menggunakan yang alami saja karena cukup efektif dan efisien,' kata Suwardi.
Mudah
Zeolit, salah satu pembenah tanah alami yang sering digunakan pekebun. Batuan berwama abu-abu sampai kebiru-biruan itu memiliki karakter melepas air tinggi. Pada saat dipanaskan 5000C mengalami aktivasi, sehingga kemampuan mengikat kation lebih tinggi. Nilai KTK zeolit adalah 120 C mol/kg.
Selain itu, zeolit mengandung lebih dari 30 mineral alami, seperti natrolit, thomsonit, analit, hendalit, clinoptilotit, dan mordernit. Oleh karena itu dengan zeolit hara tanaman tercukupi. 'Makanya produktivitas tanaman lebih tinggi,' kata Achmad.
Di Aceh misalnya, pemakaian zeolit 10 ton/ha pada tanaman jagung menghasilkan 4,56 ton jagung pipilan per ha; dengan 5 ton zeolit menghasilkan 4,26 ton jagung pipil. Bandingkan dengan yang tidak menggunakan zeolit sama sekali, hasilnya hanya 3,45 ton/ ha. Dengan biaya Rp500.000/ ton zeolit, petani bisa meraih untung lebih banyak karena peningkatan produksivitas lahan.
Namun, Achmad mengingatkan, 'Jangan mengaplikasikannya di tanah yang masam'. Sebab, zeolit bakal melepaskan asam-asam organik sehingga menurunkan pH tanah. Tanah terlalu masam kesuburannya rendah. Sifat itu sama dengan kapur pertanian dolomit yang kaya kalsium dan abu terbang batubara yang kaya mineral boron dan fosfor.
'Untuk tanah yang asam, sebaiknya menggunakan gipsum,' kata Achmad. Pembenahan gipsum mampu meningkatkan kadar kalsium pada tanah miskin hara dan agregasi struktur, tapi tidak meningkatkan pH. Aplikasi 2-5 ton/ha gipsum di daerah tsunami menyelamatkan tanaman dari keracunan garam laut selama 1-3 musim dan menurunkan nilai daya hantar listrik menjadi 2 decisiemen (dS). Sebelumnya kadar NaCl tanahnya tinggi. Akibatnya, nilai daya hantar listriknya mencapai angka 30 dS, tanaman tak mungkin bisa tumbuh.
Murah
Pembenah tanah juga memperbaiki struktur tanah berpasir. Adanya pembenah meningkatkan konsistensi tanah sehingga erosi dan longsor dapat dihindari. Di tanah itu, pembenah tanah bitumen menjadi andalan. Bitumen adalah campuran hidrokarbon berbentuk cairan pekat, bahan organik biasanya diproses jadi aspal. Jadi fungsinya juga mirip aspal, yaitu sebagai pengikat, memperkuat tanah, dan memperbaiki lapisan jalan. Kemampuan itu disebabkan bitumen kaya karbon, hidrogen, sulfur, nitrogen, dan oksigen. Namun, harganya mahal dan ketersediaannya di pasaran sedikit.
'Yang paling mudah dan banyak tersedia sebagai pembenah tanah adalah kompos,' kata Suwardi. Kompos hasil fermentasi bahan organik berupa limbah pertanian. Melalui proses pengomposan diperoleh kandungan bahan organik tinggi yang memperbaiki sifat fisik tanah dan dalam jangka panjang dapat mengembalikan kesuburan dan produktivitas lahan. Hasil pengomposan lain, asam humat dan asam fulfat, pemacu pertumbuhan tanaman. Oleh karena itu, aplikasi kompos dapat menurunkan kebutuhan pupuk kimia.
Itu ditunjukkan oleh hasil penelitian Achmad di Aceh. Di sana, ia mencoba menanam padi tanpa bahan organik. Kebutuhan pupuk kimia seperti Urea mencapai 250 kg, SP-36 (50 kg), dan KCl (50 kg). Namun, jika dibenamkan 5 ton jerami/ha, kebutuhan Urea hanya 230 kg, SP-36 (50 kg), tanpa KCl. Sedangkan jika menggunakan 2 ton pupuk kandang butuh Urea 175 kg, KCl (30 kg), dan tanpa SP-36.
'Untuk mempermudah penyerapan kompos oleh tanaman, butuh bantuan mikroba,' kata Isroi, SSi,MSi, peneliti Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia, Bogor. Idealnya, mikroba yang bersifat pelarut fosfat, penghalau penyakit, dan penambat nitrogen. Jadi beda mikroba, lain juga tugas dan manfaatnya.
Mikroorganisme diaplikasikan bersama kompos organik atau pembenah tanah seperti blotong. Itu dilakukan oleh Prof Wahono Hadi Susanto, dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya Malang. Wahono mencampur blotong alias limbah tebu dengan Thiobacillus sp. Hasilnya, produksi tebu meningkat dari 80 ton/ha menjadi 200 ton/ha. Menurut direktur PT Wahana Cipta Karya itu, campuran blotong dan mikroba meningkatkan produksi karena mikroba Thiobacillus sp mengurai mineral sulfur asal limbah tebu dan mempermudah tebu menyerap hara. Jadi, dengan pembenah tanah produksi pun dibenahi. (Vina Fitriani/Peliput: A. Arie Raharjo dan Nesia Artdiyasa)

Kamis, 12 November 2009

Mengenal Penyakit Pada Tanaman Tomat

A. Bercak kering Alternaria (early blight, Alternaria blight) : Alternaria solani Sorauer.


Sebaran geografi :


Terdapat di Inggris, India, Australia, dan Amerika Serikat. Di Indonesia dilaporkan terdapat di Sumatera dan Jawa.


Tanaman inang :


Tanaman yang termasuk Solanaceae antara lain kentang (Solanum tuberosum), terung (S. melongenas), ranti (S. nigrum), kecubung (Datura stramonium).


Gejala serangan :


Gejala dapat terjadi pada daun, batang, dan buah. Pada daun terdapat bercak-bercak kecil bulat dan bersudut, berwarna coklat tua sampai hitam. Di sekitar bercak nekrotik terdapat halo sempit. Pada serangan berat banyak terdapat bercak, daun akan layu dan gugur sebelum waktunya (Gambar …).Gejala pada batang ditandai dengan bercak gelap yang mempunyai lingkaran-lingkaran terpusat.Gejala pada buah umumnya melalui batang atau calyx, terjadi bercak dengan lingkaran-lingkaran terpusat. Buah yang terinfeksi akan gugur sebelum masak (Gambar ...).


Penularan penyakit :


Melalui sisa-sisa tanaman sakit, tanah dan benih.Lokasi inokulum pada benih :Miselium dan konidia pada permukaan benih. Miselium pada lapisan benih.Uji kesehatan benih : Metode Blotter.


Pengendalian penyakit benih :


Di Hongaria dikendalikan dengan perlakuan benih yaitu dengan perendaman selama 15 menit dalam ceresan 0,1 %.
B. Layu Fusarium (Fusarium wilt) : Fusarium oxysporum f.sp. lycopersici (Sacc.) Snyder & Hansen.


Sebaran geografi :


Terdapat di seluruh dunia. Di Indonesia dilaporkan terdapat di Sumatera dan Jawa.Tanaman inang : terbatas pada tomat.


Gejala serangan :


Bibit yang terserang menunjukkan gejala layu. Tanaman dewasa yang terserang menunjukkan kelayuan yang diawali dengan merunduknya petiole dan rachis daun. Daun yang terserang akhirnya berubah menjadi kuning. Akar yang terinfeksi apabila dicabut dan dibelah secara vertikal menunjukkan gejala diskolorasi pada pembuluh xylem (Gambar …).


Penularan penyakit :


melalui benih dan tanah


Lokasi patogen pada benih :


Pada permukaan benih sering terkontaminasi inokulum patogen. Struktur seperti klamidospora terdapat dalam hilum benih. Miselium terdapat dalam lapisan luar benih, mikrokonidia yang dihasilkan terbawa dalam pembuluh cairan.


Uji kesehatan benih :


Benih yang telah disterilisasi permukaannya diletakkan pada media agar Littman : Dextrose 10 g, peptone 10 g, bacto oxgall 15 g, agar 20 g, air destilasi 1 l. Kemudian diinkubasikan pada 20o C selama 5 hari dengan pencahayaan ultra violet selama 12 jam. Pada benih yang terinfeksi akan muncul koloni seperti kapas di sekitar benih (Gambar ...).


Pengendalian penyakit benih :


Perlakuan dengan benomil dilaporkan di Taiwan dapat mengeradikasi inokulum. Di Maroko perlakuan benih dengan 2 % Na-hipoklorit dilaporkan dapat mengendalikan penyakit.


Peranan karantina :


Penyakit layu Fusarium merupakan penyakit yang menimbulkan banyak kerugian dan terdiri dari beberapa ras maka penyebaran penyakit melalui lalu lintas benih perlu mendapat perhatian dari pihak karantina.
C. Hawar daun (late blight, fruit rot) : Phytophthora infestans (Mount.)de Barry.


Sebaran geografi :


Terdapat di Amerika Utara, Amerika Tengah, dan Eropa. Di Indonesia penyakit ini dilaporkan terdapat di Sumatera, Jawa, Sulawesi Utara, Bali, dan Nusa Tenggara Timur.


Tanaman inang :


Tomat, kentang, dan terung.


Gejala serangan :


Bercak pada daun pada awalnya berupa bercak kebasahan kemudian meluas secara cepat menjadi bercak hijau pucat sampai coklat. Pada kondisi lembab pada permukaan bawah daun terdapat gejala busuk berwarna abu-abu keputihan, kemudian berkembang menjadi bercak besar berwarna coklat.Daun yang terinfeksi menjadi coklat, menggulung, dan mati. Batang dan petiole juga dapat terserang, sehingga keseluruhan tanaman mati (Gambar …).Buah yang terserang nampak bercak gelap seperti berminyak. Bercak dapat membesar sehingga menutupi seluruh buah. Gejala busuk lunak oleh bakteri biasanya mengikuti gejala hawar daun sehingga menyebabkan timbulnya bau busuk (Gambar ...).


Penularan penyakit :


Melalui sisa-sisa tanaman sakit dan benih.


Lokasi patogen pada benih :


Inokulum terdapat pada permukaan benih, lapisan luar benih (internal dan eksternal).


Uji kesehatan benih :


metode Blotter.Pengendalian penyakit benih :Perlakuan desinfeksi permukaan benih.
D. Rebah kecambah, busuk pangkal batang (damping off, collar rot : Rhizoctonia solani Kuhn.)


Sebaran geografi :


Di Indonesia dilaporkan terjadi di Jawa dan Sumatera.


Tanaman inang :


Penyakit ini mempunyai sebaran inang yang luas antara lain tanaman yang termasuk famili Solanaceae.


Gejala serangan :


Penyakit terjadi pada pembibitan dan tanaman muda yaitu terjadinya gejala pembusukan dan rebah kecambah. Gejala awal terjadi pada pangkal batang dekat permukaan tanah, yaitu adanya pembusukan dengan warna coklat kemerahan. Pembusukan dimulai dari lapisan luar batang, kemudian berkembang menjadi cekung, kanker berwarna coklat dan batang menjadi terpilin. Dalam kondisi yang menguntungkan penyakit dapat berkembang ke bagian atas maupun bawah tanaman.


Penularan penyakit :


Inokulum primer berasal dari tanah dan sisa-sisa tanaman sakit.Lokasi patogen pada benih :Sklerotia tercampur dalam benih.


Uji kesehatan benih :


Metode Blotter untuk mengamati miselium. Sklerotia yang tercampur dengan benih dapat dideteksi dengan pengamatan secara visual.


Pengendalian penyakit benih :


Dilaporkan perlakuan benih dengan Ceresan M dapat mengendalikan penyakit.
E. Cucumber Mosaic Virus (CMV) : Cucumovirus, 28 nm.


Sebaran geografi :


Terutama didaerah beriklim sedang. Di Indonesia dilaporkan terdapat di Jawa.


Tanaman inang :


Lebih dari 49 famili tanaman terdiri dari tanaman budidaya, tanaman hias, gulma, tanaman tahunan, dan semak, antara lain : wortel, seledri, ketimun, melon, squash, kacang-kacangan, selada, cabai, bayam, tanaman hias (anemone, candytuft, viola, zinnia, columbine, dahlia, delphinium, geranium, petunia, phlox), pisang, ixora, dan markisa.


Gejala serangan :


Gejala bervariasi tergantung pada strain virus dan kultivar tanaman. Pada tanaman tomat gejala diawali dengan menguning dan kerdil. Daun menunjukkan gejala mottle mirip gejala tobacco mosaic virus (TMV). Gejala karakteristik adalah bentuk daun seperti tali sepatu (shoestring-like) (Gambar ...), yang dapat dikacaukan dengan gejala ToMV yaitu malformasi daun (fern-leaf).Pada ketimun dan zucchini menunjukkan gejala mosaik sistemik dan kerdil, buah ketimun mengalami distorsi.Pada kacang-kacangan terdapat gejala mild mosaic (mosaik ringan), kerdil dan menguning.Pada bayam terjadi gejala hawar dan mosaik pada seledri.


Penularan penyakit :


• Secara mekanis


• Vektor : terdapat 60 spesies aphid.


• Melalui benih : pada tomat dan ketimun hanya 1 %, Vigna sequipedalis dan V. unquiculata 4 – 28 %, Phaseolus vulgaris 20 %, dan Stellaria media 40 %.


Lokasi patogen pada benih :


Virus CMV terdapat pada embrio.


Uji kesehatan benih :


• Tanaman indikator : Chenopodium quinoa dan C. amaranticolor, menimbulkan gejala bercak lokal nekrotik. Vigna unquiculata, bercak lokal berukuran kecil berwarna coklat. Tomat, gejala daun berbentuk seperti tali sepatu.


• Uji serologi : ELISA.
F. Virus Mosaik Tomat (Tomato Mosaic Virus) : ToMV (bentuk batang, 300 x 18 nm). Sebaran geografi :


Terdapat di seluruh dunia. Di Indonesia penyakit ini dilaporkan di Sumatera dan Jawa.


Tanaman inang :


Tanaman yang termasuk famili Solanaceae, Amaranthaceae, Aizoaceae, dan Scrophulariaceae.Beberapa spesies menunjukkan reaksi lokal gejala bercak nekrotik yaitu Nicotiana tabacum var Xanthi n.c. dan N. sylvestris, N. glutinosa juga dapat bereaksi lokal tetapi kurang sensitive.


Gejala serangan :


Gejala yang timbul sangat dipengaruhi oleh suhu, penyinaran, umur tanaman, kultivar/varietas tanaman, serta strain virus.


Secara umum dapat dikelompokan dalam tiga tipe gejala :


a) Gejala mosaik dan mottle pada daun (pada musim panas di rumah kaca). Pada kondisi intensitas rendah dan suhu rendah terjadi gejala kerdil dan malformasi daun (fern-leaf) (Gambar ...).


b) Gejala kuning nyata atau “aucuba” mosaik dan mottle pada daun yang dapat mempengaruhi buah.


c) Gejala nekrotik pada batang, petiole, dan atau buah. Terjadinya nekrotik dapat menimbulkan kematian tanaman. Pada buah terjadi bercak cekung nekrotik.Pada cabai yang ditanam setelah tomat, terjadi nekrotik pada daun, kerontokan/gugur daun, mosaik kronis, serta kekerdilan.


Penularan penyakit :


Secara mekanis dan melalui benih. Virus ini belum diketahui dapat ditularkan melalui vektor (serangga penular).Lokasi patogen dalam benih :Virus terdapat dalam external mucilage, testa, dan endosperm. Virus tidak ditularkan melaalui embrio. Virus dapat bertahan dan bersifat infektif selama beberapa tahun. Virus bersifat sangat stabil dan mudah ditularkan dari benih ke pembibitan pada saat pengelolaan tanaman secara mekanis misalnya pada saat pemindahan bibit ke pertanaman.


Uji kesehatan benih :


a) Metode uji tanaman indikator :Inokulasi virus pada tanaman indikator N. tabacum cv. Xanthi n. c. dapat menimbulkan hasil reaksi lokal bercak nekrotik dalam 3 – 5 hari. Ukuran diameter bercak 0,5 mm kemudian berkembang menjadi 4 mm. Inokulasi juga dapat dilakukan pada potongan N. sylvestris yang diinkubasi dalam cawan petri di bawah penyinaran lampu. Inokulum virus dapat diperoleh dengan cara menggerus benih terinfeksi dalam larutan air atau buffer.


b) Uji serologi ;Dengan menggunakan antisera pada konsentrasi 1 : 16.000.Pengendalian penyakit benih :


• Benih tomat dapat dibebaskan dari kontaminasi virus dengan cara merendam benih dalam larutan 10 % (w/v), Na, PO, selama 20 menit.


• Perlakuan benih dengan pemanasan (heat treatment) pada suhu 70o C selama 2 – 4 hari atau selama 2 hari pada suhu 78o C dapat mengeradikasi virus yang terbawa dalam endosperm.


• Penanganan bibit secara hati-hati agar tidak bersentuhan satu sama lain.


• Menghindari menanam tomat pada lahan yang sama untuk jangka waktu minimum 7 bulan.


Peranan karantina :


Diketahui ada tipe strain ToMV yang berdekatan dengan tipe strain TMV (tobaca mosaic virus) daripada tobamovirus.

Rabu, 11 November 2009

Potensi Yang Terbuang


Tidak ada limbah, semua adalah produk yang berguna, baik secara langsung ataupun melalui tahapan proses lebih lanjut. Ada pertanyaan ‘nakal’, apa beda antara susu dan urin? Dalam pola pikir proses industri, keduanya sama. Sama-sama bahan baku yang dihasilkan ternak. Keduanya bisa langsung digunakan, tapi juga sama-sama bisa diproses untuk mendapatkan nilai lebih secara teknis maupun ekonomis. Sayang, urin masih saja terbuang...Adalah Danarto, aktivis pertanian organik yang tergabung dalam komunitas RAMES (Rakyat Adil Makmur Merdeka Sejahtera) yang bertahan memproduksi pupuk organik asal urin sapi sejak 2000. “Saat yang lain berhenti produksi, kita tetap bertahan. Kita berdampingan dengan kelompok tani,” kata pria paruh baya ini tegas.Tekadnya bergelut dengan cairan pesing ini bermula dari kiprahnya sebagai pegawai kontrak di Pusat Antar Universitas (PAU) UGM tahun 1986 – 1995. Saat itu ia menjadi staf bagian pengembangan bahan pengajaran dan penelitian. Di sanalah ia kenal dengan penelitian-penelitian pertanian organik dan mendekati penelitinya Prof Dr Joedoro Soedarsono. “Sampel dan catatan - catatan sementara penelitian yang seharusnya dibuang, saya pelajari. Saya coba otak-atik sendiri sambil konsultasi. Bahkan sampai beliau pensiun ini saya tetap konsultasi,” akunya. Barulah pada 1997, ia membentuk kelompok petani, dan pada 1999 mendirikan komunitas RAMES yang memproduksi pupuk cair berbahan urin.Danarto tak hanya memproduksi satu jenis pupuk. Ada pupuk penyedia Nitrogen, Fosfor dan Kalium. Ketiganya berbentuk cair dan dibuat dari limbah pertanian. “Pupuk lengkap unggulan kami berlabel Bioreen. Bahannya dari urin sapi perah, dedaunan, dan limbah buah-buahan pasar,” paparnya. Danarto juga menambahkan susu afkir pada pembuatan bioreen. Sebab, susu merangsang tumbuhnya lactobacillus yang berfungsi sebagai penggembur tanah.

Pupuk Organik


Penggunaan pupuk di dunia terus meningkat sesuai dengan pertambahan luas areal pertanian, pertambahan penduduk, kenaikan tingkat intensifikasi serta makin beragamnya penggu­naan pupuk sebagai usaha peningkatan hasil pertanian. Para ahli lingkungan hidup khawatir dengan pemakaian pupuk mineral yang berasal dari pabrik ini akan menambah tingkat polusi tanah yang akhirnya berpengaruh juga terhadap kesehatan manusia.Berdasarkan hal tersebut makin berkembang alasan untuk mengurangi penggunaan pupuk mineral dan agar pembuatan pabrik-pabrik pupuk di dunia dikurangi atau dihentikan sama sekali agar manusia bisa terhindar dari malapetaka polusi. Upaya pembudidayaan tanaman dengan pertanian organik merupakan usaha untuk dapat mendapatkan bahan makanan tanpa penggunaan pupuk anorganik. Dengan sitem ini diharapkan tanaman dapat hidup tanpa ada masukan dari luar sehingga dalam kehidupan tanaman terdapat suatu siklus hidup yang tertutup.Banyak sifat baik pupuk organik terhadap kesuburan tanah antara lain ialah:
a. Bahan organik dalam proses mineralisasi akan melepas­kan hara tanaman dengan lengkap (N, P, K, Ca, Mg, S, serta hara mikro) dalam jumlah tidak tentu dan relatif kecil.
b. Dapat memperbaiki struktur tanah, menyebabkan tanah menjadi ringan untuk diolah dan mudah ditembus akar.
c. Tanah lebih mudah diolah untuk tanah-tanah berat.
d. Meningkatkan daya menahan air (water holding capaci­ty). Sehingga kamampuan tanah untuk menyediakan air menjadi lebih banyak. Kelengasan air tanah lebih terjaga.
e. Permeabilitas tanah menjadi lebih baik. Menurunkan permeabilitas pada tanah bertekstur kasar (pasiran), sebaliknya meningkatkan permeabilitas pada tanah bertekstur sangat lembut (lempungan).
f. Meningkatkan KPK (Kapasitas Pertukaran Kation ) se­hingga kemampuan mengikat kation menjadi lebih tinggi, aki­batnya apabila dipupuk dengan dosis tinggi hara tanaman tidak mudah tercuci.
g. Memperbaiki kehidupan biologi tanah (baik hewan ting­kat tinggi maupun tingkat rendah ) menjadi lebih baik karena ketersediaan makan lebih terjamin.
h. Dapat meningkatkan daya sangga (buffering capasity) terhadap goncangan perubahan drastis sifat tanah.
i. Mengandung mikrobia dalam jumlah cukup yang berperanan dalam proses dekomposisi bahan organik.
Sedangkan sifat yang kurang baik dari pupuk organik adalah:
a. Bahan organik yang mempunyai C/N masih tinggi berarti masih mentah. Kompos yang belum matang (C/N tinggi) dianggap merugikan, karena bila diberikan langsung ke dalam tanah maka bahan organik diserang oleh mikrobia (bakteri maupun fungi) untuk memperoleh enersi. Sehingga populasi mikrobia yang tinggi memerlukan juga hara tanaman untuk tumbuhan dan kembang biak. Hara yang seharusnya digunakan oleh tanaman berubah digunakan oleh mikrobia. Dengan kata lain mikrobia bersaing dengan tanaman untuk memperebutkan hara yang ada. Hara menjadi tidak tersedia (unavailable) karena berubah dari senyawa anorganik menjadi senyawa organik jaringan mikrobia, hal ini disebut immobilisasi hara. Terjadinya immobilisasi hara tanaman bahkan sering menimbulkan adanya gejala defisiensi. Makin banyak bahan organik mentah diberikan ke dalam tanah makin tinggi populasi yang menyerangnya, makin banyak hara yang mengalami immobilisasi. Walaupun demikian nantinya bila mikrobia mati akan mengalami dekomposisi hara yang immobil tersebut berubah menjadi tersedia lagi. Jadi immobilasasi merupakan pengikatan hara tersedia menjadi tidak tersedia dalam jangka waktu relatif tidak terlalu lama
b. Bahan organik yang berasal dari sampah kota atau limbah industri sering mengandung mikrobia patogen dan logam berat yang berpengaruh buruk bagi tanaman, hewan dan manusia.
Sisa tanaman hasil pertanian
Limbah sisa hasil pertanian cukup banyak terutama terdiri dari daun-daun, kulit biji (kopi, coklat, sabut kelapa) dari perkebu­nan, jerami padi jagung, daun dari halaman/ pekarangan dan sebagainya. Bahan organik yang baru dikumpulkan umumnya masih segar dan mempunyai kisaran nisbah C/N sedang ( 35) untuk legum dan sangat tinggi (> 60) untuk kayu dan non legum. Sebelum digunakan bahan-bahan ini harus dikomposkan lebih dulu agar nisbah C/N nya turun menjadi 15.
Pupuk kandang
Pupuk kandang merupakan pupuk yang penting di Indonesia. Selain jumlah ternak lebih tinggi sehingga volume bahan ini besar, secara kualitatif relatif lebih kaya hara dan mikrobia dibandingkan limbah perta­nian. Yang yang dimaksud pupuk kandang ialah campuran kotor­an hewan/ ternak dan urine.
Pupuk kandang dibagi menjadi dua macam: a) pupuk padat dan b) pupuk cair. Susunan hara pupuk kandang sangat bervariasi tergantung macamnya dan jenis hewan ternaknya. Nilai pupuk kandang dipengaruhi oleh: 1) makanan hewan yang bersangkutan, 2) fungsi hewan tersebut sebagai pembantu pekerjaan atau dibutuhkan da­gingnya saja, 3) jenis atau macam hewan, dan 4) jumlah dan jenis bahan yang digunakan sebagai alas kandang.
Pupuk hijau
Pupuk hijau merupakan pupuk yang berasal dari sisa tanaman legum. Karena kemampuan tanaman legum mengikat N udara dengan bantuan bakteri penambat N menyebabkan kadar N dalam tanaman relatif tinggi. Akibatnya pupuk hijau dapat diberikan dekat waktu penanaman tanpa harus mengalami proses pengomposan lebih dulu sebagaimana sisa-sisa tanaman pada umumnya.
Beberapa contoh pupuk hijau, antara lain:
a. Crotalaria juncea. Dulu jenis legum ini diharuskan ditanam pada perkebunan tembakau Vorstenland pergiliran tanaman. Memasukkan tanaman legum ini jelas akan berpengaruh baik terhadap sifat-sifat tanah baik tanaman tembakau itu sendiri maupun tanaman sesudahnya. Produksi 150-250 kw/ hektar. Kandungan N 2.84% dari bahan kering. Kadar bahan kering 16.0% dari bahan basah.
b. Crotalaria anagyroides. Produksi hijauan daun dan tangkai 284 kw/ hektar. Kadar N= 2.31% dari bahan kering, kadar bahan kering sekitar 13.24%; umur tanaman 6-10 bulan.
c. Crotalaria usaramensis. Produksi hijauan tergolong tinggi sekitar 350 kw/ hektar; umur tanaman 4-5 bulan.
d. Tephrosia vogelii, thephrosia candida.
e. Sesbania sesban, janti turen (Jawa).
f. Sesbania esculatta, produksi 120 kwt/ hektar.
g. Phaseolus tunatus, kratok (Jawa). Produksi 120-180 kw/ hektar . Mengandung N 3.85 % dari bahan kering; kadar bahan kering 19.3% terhadap bahan basah.
h. Glycine soya, kedele produksi 65.27 kw/ hektar tangkai dan daun mengandung 0.57% N dari bahan basah. Selain produk­si daun dan tangkai kedele mempunyai produksi biji kedele dengan sekitar 1.1 ton per hektar.
i. Vigna sisnensis, kacang tunggak, kacang dadapan.
j. Mimosa invisa, produksi 300 kw/ hektar.; umur 6-8 bulan.
k. Centrosoma pubescens, produksi 400 kw/ hektar; umur 10 bula.
l. Calopogonium mucunoides, umumnya digunakan untuk maka­nan ternak.
m. Pueraria thumbergiana.

Teh Hilangkan Bau Amis


Penggorengan yang digunakan untuk menggoreng ikan seringkali berbau amis, walaupun sudah dicuci. Ada cara ekonomis dan sederhana untuk menghilangkan bau amis pada penggorengan, yakni menggunakan sisa teh. Caranya, cuci penggorengan seperti biasa lalu gunakan penggorengan untuk untuk merebus ampas daun teh selama 20 menit. Bau amis pun akan segera hilang. Penulis: Benny, Pulogebang (Tabloid Rumah)
Rabu, 16 April 2008 | 08:45 WIB
Soda kue yang yang selama ini berguna untuk membuat kue mengembang ternyata mempunyai kemampuan untuk menyerap bau. Berikut beberapa bau yang bisa dinetralisir oleh soda kue. 1.Bau di kulkas. Untuk menghilangkan bau ini, letakkan soda kue di mangkok atau kotak terbuka. Masukkan kotak atau cawan ke dalam kulkas. 2.Bau di sepatu. Taburkan soda kue dalam jumlah banyak ke dalam sepatu, dan diamkan selama sehari penuh. 3.Bau apek di karpet. Sebarkan soda kue di atas karpet yang berbau. Diamkan selama 15 menit, lalu bersihkan sisa soda kue dengan penyedot debu.

Senin, 09 November 2009

Reformasi Pertanian: Pencapaian Swasembada Pangan melalui Cooperative Farming Complex


Dalam upaya pencapaian kembali swasembada pangan, ada sejumlah tantangan yang mesti kita perhatikan, khususnya pencabutan subsidi pertanian serta inefisiensi skala ekonomi. Penguasaan lahan yang sempit dalam usahatani secara ekonomis akan tidak efisien, apalagi jika ditambah dengan kondisi perpecahan dan perpencaran (division and fragmentation). Keadaan ini terjadi dari waktu ke waktu dinegara kita dengan maraknya peralihan fungsi lahan dan jual beli lahan pertanian. Juga akibat sistem pewarisan yang berlaku di masyarakat, system penyakapan (tenancy) dan pertambahan penduduk. Disisi lain kegiatan pertanian yang dilakukan secara umum masih bersifat individual, sedangkan kelompok tani atau lembaga agribisnis lokal yang ada masih lebih banyak melaksanakan fungsi sosial daripada fungsi-fungsi bisnis. Karena itu perlu model baru manajemen usahatani.
Cooperative Farming Complexes
Ada konsep untuk sistem pengelolaan lahan satu hamparan secara efisien oleh sekelompok petani dalam suatu manajemen bersama atau populer dalam istilah Cooperative Farming Complexes (CFC). Model ini sejak lama berkembang dan dipraktekkan oleh beberapa negara maju seperti Jepang dan negara-negara Eropa dalam menghadapi masalah inefisensi produksi akibat sempitnya lahan.
Sejak era reformasi bergulir, banyak peneliti, birokrat dan penentu kebijakan di bidang pertanian menyadari bahwa model pertanian skala kecil tidak lagi dapat berjalan sendiri-sendiri. Untuk menghadapi tantangan yang semakin besar petani membutuhkan kekuatan untuk mendapatkan modal, penggunaan mesin-mesin pertanian, pengetahuan dan penerapan akan teknologi yang tepat, serta pemasaran produk dengan harga yang layak. Tantangan sektor pertanian baik yang bersifat internal maupun external mensyaratkan keunggulan komparative dimana sistim agribisnis yang dikembangkan harus lebih berorientasi kepada pasar dan peningkatan effisiensi sistem produksi.
Revitalisasi kelompok tani dalam sistem agribisnis dirasakan sangat perlu. Oleh karena itu dalam usaha pemberdayaan petani kecil di pedesaan beberapa tahun terakhir ini munculah penjabaran model CFC. Contohnya melalui pelaksanaan beberapa program pemberdayaan kelompok tani berskala nasional dan dilakukan secara simultan oleh departermen terkait bersama seluruh stakeholder baik berupa percontohan maupun penerapan dalam skala luas seperti program Corporate Farming, Cooperative Farming, ataupun Contract Farming Group yang menempatakan kelompok tani sebagai pelaku utama kegiatan agribisnis. Dari model-model tersebut diharapkan tercipta suatu usaha terpadu yang dapat meningkatkan efisiensi dan produktifitas usahatani yang berorentasi pasar.
Hal lain yang diperhatikan dalam usaha pembangunan pertanian secara umum ialah masalah kualitas sumberdaya manusia. Disini peran orang luar dalam kelompok tani deperkenalkan melalui fungsinya sebagai seorang konsultan, manajer kelompok ataupun penyuluh dari instansi terkait dalam upaya pemberdayaan kelompok. Pengenalan peran manajer dalam usaha produksi kelompok dan pemasaran kiranya perlu mengacu pada suatu model organisasi agribisnis yang efektif. Dari banyak program yang telah dilakukan diatas patut kiranya didukung dan diupayakan sebagai model pencapaian swasembada pertanian melalui penggalian potensi lokal.
Keunggulan Model CFC
Melalui model ini dapat diperoleh bermacam manfaat bagi para petani anggota kelompok maupun masyarakat di lingkungannya, baik manfaat ekonomi maupun sosial. Ada sejumlah manfaat ekonomi sebagai berikut.
Pertama, efisiensi produksi; CFC akan meningkatkan efisiensi khususnya dalam penggunaan tenaga kerja dan mesin pertanian. Kedua, meningkatkan negotiation power; Dengan model ini baik dalam pemasaran hasil komoditas maupun pembelian bermacam saprotan dan barang investasi, negotiation power petani akan meningkat karena dilakukan secara kelompok. Ketiga, terciptanya efisiensi dan efektifitas manejemen; pengelolaan hamparan secara umum dilakukan oleh seorang manajer profesional yang dalam prakteknya semua kegiatan dimusyawarahkan sebelumnya dengan para anggota. Keempat, aktivitas nonfarm; bila efisiensi dari tenaga kerja tercapai, maka curahan waktu tenaga kerja yang berlebih dapat dialihkan untuk berbagai macam kegiatan nonfarm guna memperoleh tambahan penghasilan. Kelima, peningkatan pendapatan; Dengan berbagai macam keuntungan yang diperoleh diharapkan pendapatan petani meningkat.
Adapun manfaat sosial yang diperoleh dari model ini antara lain sebagai berikut. Pertama, pendidikan bagi masyarakat pedesaan; model ini dapat menjadi ajang pendidikan organisasi kerakyatan bagi masyarakat pedesaan dalam usaha mencapai tujuan bersama. Kedua, menghidupkan kembali gairah ekonomi kerakyatan; dengan terbentuknya sentra-sentra ekonomi pertanian yang tangguh kegiatan agribisnis akan berjalan, pasar akan terbentuk, Ketiga, gairah gotong royong dan demokratisasi; CFC akan memberikan efek positif berupa perasaan memiliki dari para anggota, yang akan berlanjut pada komitmen mereka untuk bekerja bersama melalui kelompok.
Model tersebut memang selama ini terbukti di beberapa negara seperti Jepang. Namun, untuk diterapkan di Indonesia, diperlukan berbagai penyesuaian dengan kondisi sosial budaya dan ekonomi yang ada.

Selasa, 13 Oktober 2009

Budidaya Padi Hibrida

INTISARITANI CAHYONO


Pendahuluan
Pemintaan terhadap beras dari tahun ke tahun cenderung naik sejalan dengan laju peningkatan jumlah penduduk. Disisi lain varietas unggul yang digunakan petani tidak dapat berproduksi lebih tinggi karena keterbatasan kemampuan genetik tanaman.
Sejalan dengan tujuan pembangunan pertanian yang lebih memfokuskan kepada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani, maka program intensifikasi padi sudah selayaknya mendapat perbaikan dan penyempurnaan dari berbagai aspek.
Padi hibrida berperan untuk meningkatkan produksi. Teknologi pengembangan padi hibrida yang diterapkan secara intensif di daerah asalnya China, India dan Vietnam mampu meningkatkan produktifitas sebesar 15 - 20 %. Keberhasilan penanaman padi hibrida secara intensif menunjukkan bahwa varietas padi hibrida merupakan teknologi yang praktis dalam peningkatan produksi padi.
Penyiapan Lahan
Pada Prinsipnya lahan untuk budidaya padi hibrida sama dengan penyiapan lahan untuk budidaya padi biasa (inhibrida)
Tanah diolah secara sempurna yaitu dibajak I dibiarkan selama 7 hari dalam keadaan macak-macak, kemudian dibajak II digaru untuk melumpurkan dan meratakan tanah.
Untuk menekan pertumbuhan gulma, lahan yang telah diratakan disemprot dengan herbisida pra tumbuh dan dibiarkan selama 7 - 10 hari atau sesuai dengan anjuran.
Persemaian
Pembuatan persemaian dilakukan sebagai berikut :
Tanah diolah, dicangkul atau dibajak, dibiarkan dalam kondisi macak-macak selama minimal 7 hari agar gabah yang ada dalam tanah tumbuh. Kemudian olah tanah kedua sambil membersihkan lahan dari tanaman padi yang tumbuh liar dan gulma.
Buat bedengan dengan tinggi minimal 5 - 10 cm, lebar 110 cm dan panjang disesuaikan dengan petak kebutuhan.
Pupuk persemaian dengan Urea, SP36 dan KCL masing-masing sebanyak 5 gr/m persegi atau 1 kg benih per 20 meter persegi lahan.
Kebutuhan benih untuk 1 hektar areal pertanaman adalah 10 - 20 kg.
Penamaan
Penanaman dilakukan pada saat bibit berumur 10 - 15 hari.
Jarak tanam 20 x 20 cm, satu tanaman per rumpun.
Populasi bibit di persemaian lebih jarang daripada yang bisa dipraktekan petani, sehingga pada umur 21 hari bibit telah mempunyai anakan. Varietas yang digunakan
Dari hasil uji coba yang telah dilaksanakan telah didapat beberapat beberapa varietas padi hibrida yang dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian maupun introduksi dari negara China, Vietnam, Jepang dan lain-lain yaitu :
Varitas rokan
Varietas Maro
Varietas Intani 1
Varietas Intani 2
Varietas Miki 1
Varietas Miki 2
Varietas Miki 3
Pemupukan
Anjuran pemupukan padi hibrida adalah :
Musim Kemarau
Takaran pupuk 300 kg Urea, 100 kg SP 36 dan 150 kg KCL/ha.
Waktu Pemberian : (1). Saat tanam : 60 kg Urea + 100 kg SP36 + 15 kg KCL/ha. (2). 4 minggu setelah tanam : 90 kg Urea/ha. (3). 7 Minggu setelah tanam : 75 kg Urea + 50 kg KCL/ha. (4). 5 % berbunga : 75 Urea/ha
Musim Hujan
Takaran pupuk 250 kg Urea, 100 kg SP36 dan 150 kg KCL/ha.
Waktu pemberian : (1). Saat tanam : 50 kg Urea + 100 kg SP36 + 100 kg KCL/ha. (2). 4 Minggu setelah tanam : 75 kg Urea/ha. (3). 7 Minggu setelah tanam : 75 kg Urea + 50 kg KCL/ha. (4). 5% berbunga : 50 Urea/ha
Pemeliharaan Tanaman
Penyiangan dilakukan secara intensif agar tanaman tidak terganggu gulma, yang dilakukan paling sedikit 2 kali yaitu menjelang pemupukan ke 2 dan ke 3.
Padi hibrida yang ada pada saat ini peka terhadap penyakit tungro dan hama wereng coklat. Maka padi hibrida yang dikembangkan di daerah endemis hama dan penyakit perlu diterapkan PHT dengan monitoring keberadaan tungro dan kepadatan populasi wereng secara intensif. Perhatikan juga serangan tikus sejak dini dan monitoring penerbangan ngengat penggerek batang.
Penggunaan pestisida secara bijaksana.
Panen dan Pasca Panen
Pada prinsipnya secara panen dan pasca panen padi hibrida tidak beda dengan padi biasa (inhibrida). Penentuan saat panen sangat berpengaruh terhadap kualitas gabah. Tanaman padi yang dipanen muda juga digiling akan menghasilkan banyak beras pecah. Ciri-ciri tanaman padi yang siap untuk dipanen adalah :
95 % butir-butir padi dan daun bendera sudah menguning.
Tangkai menunduk karena serat menanggung butir-butir padi yang bertambah berat.
Butir padi bila ditekan terasa keras dan berisi.
Peralatan panen dapat digunakan sabit bergerigi atau reaper dan dilaksanakan secara beregu. Hasil panen dimasukan kedalam karung kemudian dirontokkan dengan pedal thresher atau power thresher. Keterlambatan perontokan dan pengeringan akan mengakibatkan butir kuning.
Selama perontokan agar menggunakan alas dari anyaman bambu, tikar plastik, sehingga gabah hasil perontokan mudah dikumpul kembali. Gabah setelah dirontok dibersihkan dari kotoran gabah hampa dan benda asing lainnya. Pembersihan gabah akan mempertinggi efisiensi pengolahan hasil, mempertinggi daya simpan dan harga jual per satuan berat.
Pengeringan agar menggunakan lantai jemur, bila tidak ada panas matahari dapat menggunakan dryer. kematangan gabah dan alat penggilingan sangat menentukan rendemen, tingkat kehilangan hasil dan mutu beras. Umur tanaman yang belum optimal dan tidak seragam akan menurunkan mutu berat dan rendemennya.
Sumber : Balai Besar PenelitianPadi SukamandiSumber Dana: P3TIP/FEATI T.A. 2007Oplah :750 examplar Penyusun :AM,JH,RK

Jumat, 25 September 2009

Sampah Menjadi Kompos (Pupuk Cair)

INTISARITANI CAHYONO



Mengubah Sampah Menjadi Kompos

AGAR sampah bisa dijadikan sebagai bahan baku kompos, langkah pertama yang harus dilakukan adalah melakukan pemilahan sampah sesuai jenis. Saat ini memang masih terasa sulit memilah-milah sampah. Namun, bila sejak awal sudah dibiasakan, pemilahan akan lebih mudah dilakukan. Pemilahan sebaiknya sudah dilaksanakan sejak tingkat rumah tangga, pasar, atau komunitas lain. Sampah organik dipisah dari sampah non-organik. Caranya, dengan menempatkan masing-masing jenis ke dalam kantong plastik yang berbeda warna. Misalnya kantong plastik bening untuk sampah organik, kantong plastik putih untuk sampah kertas/karton, dan kantong warna hitam untuk jenis sampah lainnya. Sampah hasil pemilahan lalu dikirim ke titik RT (first line point). Selanjutnya, oleh petugas yang dibiayai oleh masyarakat, sampah itu dibawa ke titik pengumpulan RW (second line point). Dari situ dibawa ke tingkat kelurahan (third line point), untuk kemudian diangkut ke pabrik kompos. Sedangkan sampah nonorganik seperti besi dikirim ke pedagang besi tua, sampah plastik ke pabrik plastik daur ulang, sampah kertas/karton ke pabrik kertas/karton daur ulang. Demikian pula dengan sampah berupa kaca. Di pabrik kompos, sampah organik langsung dicacah menjadi halus. Setelah itu, dibawa ke lokasi pembuatan kompos yang letaknya di tempat yang sama. Para pemulung yang jumlahnya begitu banyak dapat dilibatkan dalam pembuatan kompos ini. Proses pembuatan kompos ini sangat sederhana sehingga mereka jika dilatih akan menguasainya dengan cepat. Jika proses ini dapat diselesaikan dalam waktu sehari selesai (one day finish), bau busuk akan hilang dengan sendirinya. Sampah organik dapat dibuat menjadi kompos hanya dalam waktu dua minggu, sisanya memerlukan waktu lebih lama. Sisanya, sebanyak 15-20 persen sampah organik yang tak terurai akan dibakar dan arangnya bisa dimanfaatkan untuk menaikkan pH tanah dan mengikat unsur logam berat yang beracun.

Kebutuhan lahan

Lahan yang diperlukan sekira 1 m2 per 2 m3 sampah dikalikan potensi jumlah sampah yang ada dan waktu yang diperlukan untuk mengolah sampah. Misalnya, produksi sampah mencapai 150.000 ton/bulan, lahan yang dibutuhkan mencapai 15 ha. Lahan tersebut bisa dibagi menjadi 3-4 lokasi agar jarak tempuh kendaraan pengangkut tidak terlalu jauh. Setiap pekerja dapat membuat kompos sekira 1 ton/hari. Jika tiap kg kompos "dibeli" dengan harga Rp 25,00/kg, mereka akan mendapatkan penghasilan Rp 25.000,00 hari. Sampah organik sebanyak 2.000 ton setelah diolah dan disaring akan menjadi 1000-1200 ton saja atau dengan angka konversi 50-60 persen. Sisanya menguap. Biaya pembuatan kompos sekira Rp 75,00 - Rp 100,00/kg, termasuk biaya pembelian mikroba pelapuk bahan organik sebesar Rp 6.000,00 - Rp 33.000,00/ton sampah. Jika harga jualnya sekira Rp 200,00/kg maka kompos ini akan laris terjual. Saat ini harga kompos di pabrik sekira Rp 350,00 - Rp 1.50,00/kg, umumnya hanya terserap oleh tanaman hias dan beberapa jenis tanaman hortikultura dan pangan. Kompos sangat dibutuhkan untuk lahan pertanian karena fungsinya yang dapat meningkatkan kesuburan tanah. Kesuburan kimia dan fisik tanah akan bertambah dan selanjutnya akan meningkatkan produksi tanaman. Di bidang perikanan, misalnya tambak umur pemeliharaan ikan dapat dipersingkat. Areal bekas pertambangan akan sangat baik jika diberi kompos, lahan yang sudah rusak dapat ditanami kembali.

Kandungan hara

Kompos yang baik mengandung unsur hara makro Niotrogen > 1,5 % , P2o5 (Phosphat) > 1 % dan K20 (Kalium ) > 1,5 %, disamping unsur mikro lainnya. C/N ratio antara 15-20 , diatas atau dibawah itu kurang baik. Untuk kepentingan bisnis, pupuk kompos yang dihasilkan harus mempunyai kualitas yang ajek dan supply yang berkesinambungan. Pupuk kompos untuk tanaman organik, jika unsur haranya kurang dapat ditambah dengan bahan organik lainnya. Nitrogen dapat ditambahkan urine ternak, mikroba pengikat Nitrogen, pupuk organik yang berasal dari hewani seperti ikan, darah, dll. Phosphat dapat ditambahkan dari pupuk guano atau rock phosphat, dapat juga dicampurkan dengan mikroba pelepas phosphat. Kalium dapat ditambahkan dari arang/abu batok kelapa/kelapa sawit, abu bekas incenerator, dll. Pupuk kompos yang tidak diperuntukkan bagi tanaman organik, selain dari campuran di atas dapat pula diberikan campuran dengan pupuk buatan. Jadi, pupuk seperti ini hanya dipergunakan untuk tanaman nonorganik. Karena bahan baku sampah tidak tetap, diperlukan campuran dengan bahan lain agar kualitasnya terjaga. Quality control harus diterapkan di sini, sehingga orang yang membeli benar-benar puas.

Jenis kompos

Produksi kompos dapat dibedakan ke dalam tiga kelompok. Pertama, kompos murni. Pupuk ini ditujukan untuk lahan tanaman organik, namun juga dapat digunakan untuk lahan pertanian nonorganik. Kedua, kompos plus mikroba (pengikat N dan pelepas P). Pupuk yang telah diperkaya ini juga diperuntukkan untuk lahan pertanian organik, namun juga dapat digunakan untuk lahan pertanian nonorganik (biasa). Ketiga, kompos plus pupuk buatan. Pupuk ini hanya dapat digunakan untuk lahan pertanian nonorganik Pada dasarnya kompos dapat meningkatkan kesuburan kimia dan fiisik tanah yang selanjutnya akan meningkatkan produksi tanaman. Pada tanaman hortikultura (buah-buahan, tanaman hias, dan sayuran) atau tanaman yang sifatnya perishable ini hampir tidak mungkin ditanam tanpa kompos. Demikian juga di bidang perkebunan, penggunaan kompos terbukti dapat meningkatkan produksi tanaman. Di bidang kehutanan, tanaman akan tumbuh lebih baik dengan kompos. Sementara itu, pada perikanan, umur pemeliharaan ikan berkurang dan pada tambak, umur pemeliharaan 7 bulan menjadi 5-6 bulan. Selain itu, kompos membuat rasa buah-buahan dan sayuran lebih enak, lebih harum dan lebih masif. Hal inilah yang mendorong perkembangan tanaman organik, selain lebih sehat dan aman karena tidak menggunakan pestisida dan pupuk kimia rasanya lebih baik, lebih getas, dan harum. Penggunaan kompos sebagai pupuk organik saja akan menghasilkan produktivitas yang terbatas. Penggunaan pupuk buatan saja (urea, SP, MOP, NPK) juga akan memberikan produktivitas yang terbatas. Namun, jika keduanya digunakan saling melengkapi, akan terjadi sinergi positif. Produktivitas jauh lebih tinggi dari pada penggunaan jenis pupuk tersebut secara masing-masing.Selain itu, air lindi yang dianggap mencemarkan sumur di lingkungan TPA dapat dijadikan pupuk cair atau diolah terlebih dahulu sebelum dialirkan ke saluran umum. Keuntungan lainnya dengan dihilangkannya TPA (tempat pembuangan akhir) dan diganti dengan TPK (tempat pengolahan kompos) alias pabrik kompos, lahan untuk sampah ini tidak berpindah-pindah, cukup satu tempat untuk kegiatan yang berkesinambungan.Dengan demikian, pembuatan kompos dari sampah organik perkotaan akan sangat menguntungkan. Pemkot pun bisa mendapatkan penghasilan tambahan. Jika dalam sehari ada 5.000 ton sampah, dalam sehari tersedia 3.500 ton sampah organik yang siap dikonversi menjadi kompos. Dengan asumsi 1 kg sampah organik bisa menghasilkan 0,6 kg kompos, dalam sehari bisa dihasilkan 2.100 ton kompos. Dalam sebulan tersedia 63.000 ton kompos. Jika tiap kg kompos dijual dengan harga Rp 200,00, gross income per bulannya mencapai 12,6 miliar dan net income Rp 6,3 miliar. Lumayan besar. Jadi, kenapa tidak coba dimulai mendirikan pabrik kompos.***

Ir. Memet Hakim, MM

Instruktur Manajemen Sampah

sumber : Pikiran Rakyat Online

Penyakit Antraknose Pada Tanaman Cabai Dan Pengendaliannya

INTISARITANI CAHYONO

Pendahuluan
Cabai merah ( Capsicum annum L) merupakan salah satu komoditas unggulan Provinsi Lampung yang umumnya diusahakan di lahan kering baik pada dataran tinggi maupun dataran rendah. Selain dikonsumsi segar cabai juga merupakan bahan baku industri makanan, farmasi, kosmetik, dll. Sebagai penyedap makanan cabai mengandung vitamin C yang cukup tinggi sehingga tidak mengherankan jika cabai menjadi sumber pendapatan sebagian besar petani sayuran. Diantara komoditas sayuran lainnya, luas panen cabai termasuk tinggi, tetapi produktivitas yang dihasilkan belum menggembirakan. Menurut Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Propinsi Lampung tahun 2004, Luas panen cabai di Lampung 5.563 ha, dengan tingkat produktivitas rata-rata di tingkat petani 2,06 ton/ha. Hasil ini masih termasuk rendah jika dibandingkan dengan rata-rata produksi Naisonal yang mencapai 6,72 ton/ha.
Rendahnya produksi cabai di Provinsi Lampung salah satu kendalanya adalah adanya serangan penyakit antraknose. Penyakit ini sebagian besar menyerang pertanaman cabai di wilayah Kabupaten Tanggamus dan kabupaten Lampung Selatan yang sampai saat ini pengendalian dilakukan dengan menggunakan pestisida. Hal ini disebabkan terbatasnya pengetahuan petani maupun petugas. Oleh karena itu dengan adanya informasi lewat media diharapkan dapat memecahkan masalah–masalah yang dihadapi oleh petani dan pengguna lainnya.

Faktor Penyebab timbulnya Penyakit:

a. Virus: tidak dapat menyebar secara aktif kelain tanaman atau tempat. Untuk menyebar diperlukan serangga faktor seperti kutu daun, lalat putih, wereng, tungau, dan lain nya. Cara lain penyebaran virus ini melalui organ generatif yang digunakan sebagai bibit. Gejala virus secara langsung dipengaruhi oleh faktor luar yaitu kelembaban, temperatur, dan angin
b. Bakteri: Penyakit menyebar melalui air dan tanah. Air merupakan medium utama penyebaran bakteri ke tempat lain di permukaan tanah. Faktor yang paling mempengaruhi adalah kelembaban tanah dan udara. Kelembaban tinggi mendorong dengan cepat terjadinya infeksi. Gejala yang ditimbulkan bervariasi tergantung jenis bakteri dan jaringan yang diserang. Gejala serangan meliputi layu, busuk buah, bercak daun, kudis, dan benjolan. Gejala serangan bervariasi dan menyerang hampir seluruh bagian tanaman. Ciri utama serangan di daun belakang dan buah, terdapat cendawan seperti tepung atau kapas. Gejala lain terdapat bercak pada bagian yang terserang.
Penyebab Antraknose Penyakit Antraknose merupakan penyakit paling menakutkan, serangannya tidak terbatas pada saat buah masih tergantung, tetapi juga mengancam setelah buah di panen. Penyebab adalah jamur Gloesporarium piperantum dan Colletrichum capsici. Jamur ini tersebar dibawah kutikula, mempunyai banyak sekta berwarna coklat tua. Spora berbentuk oval yang ujungnya tumpul dan bengkok.
Gejala Serangan:Gejala awal dimulai dari munculnya bercak kuning pada bagian pucuk yang kemudian berlanjut ke bagian bawah yaitu daun, ranting, dan cabang akan busuk kering yang kemudian berubah menjadi coklat kehitaman. Buah yang terserang akan menjadi lunak dan busuk. Serangan berat menyebabkan seluruh buah keriput dan mengering serta warna kulit buah seperti jerami padi. Sedangkan bila batang yang terserang terlihat berupa benjolan.
Pencegahan dan Pengendalian

1. Menanam varietas yang toleran antraknose seperti varietas: Laris, Cemeti, dan Tanjung lebar 1 (non hibrida), sedangkan varietas yang hibrida meliputi: Nenggala 1, Kresna, Salero, Taro, Lado, CTH 01, dan Arimbi.

2. Melakukan pemupukan berimbang yaitu: 150 – 200 kg Urea, 450- 500 kg Za, 100- 150 kg TSP/SP-36, dan 100 – 150 kg KCl serta 20 -30 ton pupuk organik /ha.

3. Pada dataran tinggi dapat dilakukan Intercropping antara tanaman cabai dan tomat, selain dapat mengurangi serangan hama/penyakit juga dapat meningkatkan hasil panen

4. Dengan menggunakan mulsa plastik perak untuk dataran tinggi, dan jerami padi pada dataran rendah, yang dapat mengurangi infestasi antraknose terutama pada musim hujan.

5. Melakukan pemangkasan pada bagian tanaman yang terserang dan memusnahkannya

6. Mengatur waktu tanam, agar saat panen tidak jatuh pada musim hujan

7. Mengatur jarak tanam dengan tujuan menjaga kelembaban

8. Melakukan monitoring tiap 7 hari sekali dan jika terdapat lebih dari 10 % serangan, maka lakukan penyemprotan dengan menggunakan fungisida klorotalonil (Daconil 500 F) atau jenis Prifineb ( Antracol 70 WP ) dengan dosis 2 gram/lit

Senin, 21 September 2009

Gemini Virus Pada Tanaman Cabe

INTISARITANI CAHYONO

Akhir-akhir ini penyakit virus kuning pada cabai telah mengakibatkan kerugian di berbagai sentra produksi cabai di Indonesia. Di DIY, Jawa Tengah, Sumatera Barat dan Lampung, epidemi penyakit ini telah menyebabkan kerugian bagi petani hingga mencapai milyaran rupiah. Samapai sekarang belum ditemukan varietas cabai yang tahan terhadap penyakit ini. Virus mempunyai kisaran inang yang luas dan mampu menginfeksi beberapa jenis tanaman, diantaranya tomat dan gulma wedusan/babadotan (Ageratum conyzoides). Tanaman cabai yang terserang virus ini menunjukkan gejala: daun menguning cerah/pucat, daun keriting (curl), daun kecil-kecil, tanaman kerdil, bunga rontok, tanaman tinggal ranting dan batang saja, kemudian mati. Infeksi virus pada awal pertumbuhan tanaman menyebabkan tanaman menjadi kerdil dan tidak menghasilkan bunga dan buah. Gejala kuning dapat dilihat dari kejauhan. Sedangkan gejala pada tanaman tomat adalah berupa tepi daun menguning atau pucat dan melekuk ke atas seperti mangkok (cupping),daun mengeras, daun mengecil dan tumbuh tegak, tanaman menjadi kerdil apabila terinfeksi virus sejak awal pertumbuhan. Penyakit kuning cabai di Indonesia disebabkan oleh virus dari kelompok/Genus Begomovirus (singkatan dari: Bean golden mosaic virus), Famili Geminiviridae. Geminivirus dicirikan dengan bentuk partikel kembar berpasangan (geminate) dengan ukuran sekitar 30 x 20 nm. Di Cuba, penyakit kuning pada cabai disebakan oleh Tomato yellow leaf curl virus (TYLCV). Virus ditularkan oleh kutu putih atau kutu kebul (Bemisia tabaci) secara persisten yang berarti selama hidupnya virus terkandung di dalam tubuh kutu tersebut. Virus tidak ditularkan lewat biji dan juga tidak ditularkan lewat kontak langsung antar tanaman. Pengendalian penyakit yang dianjurkan adalah dengan menerapkan Manajemen Kesehatan Tanaman, artinya tanaman harus dikelola agar selalu tetap sehat, karena tanaman yang sehat akan lebih tahan terhadap infeksi virus. Pengendalian penyakit meliputi: (1) Pengolahan tanah dan pemupukan berimbang, (2) Penggunaan bibit sehat, yaitu: (a) pengerudungan persemaian menggunakan kain kasa/kelambu; (b) tempat persemaian yang terisolasi jauh dari lahan yang terserang penyakit; (c) semai dilindungi dengan pestisida nabati seperti nimba, ekstrak tembakau, dsb; (d) perlindungan dengan pestisida kimiawi dapat dilakukan secara bijaksana, (3) Sanitasi lingkungan di sekitar pertanaman cabai termasuk menghilangkan gulma dan eradikasi tanaman sakit sejak awal pertumbuhan, (4) Mengatur waktu tanam agar tidak bersamaan dengan tingginya populasi serangga penular, jarak tanam yang tidak terlalu rapat, dan pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan inang dari virus maupun serangga, (5) Pengendalian dengan insektisida kimiawi secara bijaksana, misalnya yang berbahan aktif imidacloprid, penyemprotan kutu putih sebaiknya dilakukan pada pagi hari antara jam 06:00-10.00 (6) Tanaman tahan atau toleran terhadap virus maupun serangga penular.

BUDIDAYA HORTIKULTURA DIMUSIM HUJAN KENDALA DAN KIAT MENGATASINYA

INTISARITANI CAHYONO
Hujan datang lagi……!!! Begitulah luapan kegembiraan para petani menyambut datangnya hujan di pertengahan bulan penghujan. Bagaimana tidak? Kenyataan adanya kekeringan yang berkepanjangan telah membuat kita merana apalagi petani yang selama ini menggantungkan hidupnya dari bercocok tanam.Hujan memang selalu ditunggu banyak petani karena masa bero , gagal panen dan berebut air dapat segera diakhiri . Kedatangannya mampu menghijaukan kembali rumput dan hutan yang mengering; memunculkan harapan baru untuk dapat berhasil dalam bertani, serta memotong siklus hama yang telah menguras tenaga dan biaya di musim kemarau.Budidaya sayuran selalu dilakukan sepanjang musim baik musim kemarau maupun musim hujan karena konsumen sayuran lebih menyukai produk segar dibandingkan dengan produk olahan. Hujan selain memudahkan petani untuk mendapatkan air dalam budidaya tanaman sayuran juga berarti sejumlah tantangan dan kendala yang akan datang dan mengancam keberhasilan panen atau menurunnya mutu produk sayuran. Perubahan fisik yang muncul akibat hujan bagi lingkungan tumbuh tanaman adalah meningkatnya kelembaban udara dan meningkatnya kandungan air dalam tanah. Kedua hal tersebut berdampak pada percepatan perkembangan patogen baik jamur maupun bakteri, terganggunya keseimbangan nutrisi tanaman di dalam tanah serta munculnya kerusakan fisik lain berupa pecah batang , pecah buah juga robohnya tanaman. Beberapa teknik untuk meningkatkan keberhasilan budidaya sayuran akan disajikan dan dilengkapi dengan tinjauan penyakit-penyakit utama yang biasa menyerang tanaman di musim hujan, uraian singkat mengenai siklus air, proses kehilangan dan pergerakan nutrisi tanaman utama, serta uraian dampak genangan air pada tanaman.
• Kerusakan Tanaman Akibat Kelebihan Air
Organ tanaman sayuran banyak yang bersifat sukulen atau mempunyai kandungan air yang tinggi. Karena air hujan juga mengandung cukup banyak nitrogen maka beberapa jenis sayuran cenderung lebih mudah pecah pada waktu hujan sebagai contoh pecahnya batang tanaman melon, pecah buah semangka dan pecah kubis. Akibat lain dari kebanyakan air bagi tanaman sayuran adalah munculnya gejala layu karena tanaman keracunan nitrogen. Prosesnya dapat dijelaskan sebagai berikut. Pada waktu air memenuhi seluruh rongga udara di dalam tanah maka kebutuhan oksigen akar tidak terpenuhi. Pada kondisi cukup oksigen nitrogen tersedia bagi tanaman dalam bentuk NH4+ atau NO3- sedangkan pada kondisi anaerob atau tergenang air ion-ion nitrogen tersebut tereduksi menjadi NO2- yang sangat beracun bagi tanaman. Sebagian besar tanaman sayuran sangat peka terhadap kebanyakan air.Kebanyakan air dalam tanah juga menyebabkan rendahnya daya dukung tanah terhadap tetap tegaknya tanaman menjadi rendah. Hal yang sering terjadi adalah robohnya tanaman akibat hujan angina meskipun tanaman sudah ditopang dengan lanjaran.Gangguan lain yang disebabkan oleh limpahan air hujan adalah keseimbangan nutisi dalam tanah. Bentuknya dapat berupa rontoknya bunga dan buah serta turunnya mutu buah khususnya dalam kemanisan buah.Teknik budidaya yang paling popular digunakan untuk mengurangi kelebihan air adalah dengan pembuatan saluran drainase. Terdapat dua macam cara pembuatan saluran drainase yaitu saluran drainase di atas permukaan tanah dan saluran drainase di bawah permukaan tanah.Saluran drainase di atas permukaan tanah dimaksudkan untuk mengurangi genangan, mencegah kejenuhan air yang berkepanjangan dan mempercepat aliran ke arah pembuangan tanpa terjadinya erosi tanah. Drainase ini mencakup parit-parit pemasukan dan pembuangan dalam petak penanaman termasuk di dalamnya parit yang ada diantara bedeng penanaman.Saluran drainase di bawah permukaan dimaksudkan untuk memindahkan kelebihan air di dalam tanah. Drainase ini dapat menurunkan tingginya kandungan air baik karena curah hujan, air irigasi permukaan , limpasan dari dataran yang lebih tinggi, dan air resapan. Bentuknya bervariasi ada drainase gorong-gorong, drainase batu, drainase kotak dan drainase bamboo.
• Kerusakan Akibat Meningkatnya Perkembangan Penyakit
Datangnya musim hujan biasanya bulan Oktober hingga Maret selain memberikan persediaan air yang cukup bagi tanaman, ternyata juga dapat memberikan dampak negatif berupa lingkungan udara yang lembab. Kelembaban yang tinggi ini sangat kondusif bagi perkembangan tumbuhnya jamur maupun bakteri. Sayangnya, tidak hanya jamur dan bakteri yang menguntungkan yang hidup secara pesat dalam keadaan ini, melainkan juga yang merugikan. Bahkan disinyalir pertumbuhan jamur yang merugikan termasuk diantaranya penyebab berbagai penyakit tanaman bisa lebih tinggi. Akibatnya tentu saja resiko serangan penyakit di musim hujan menjadi lebih tinggi dibandingkan musim kemarau. Adanya penyakit pada tanaman hortikultura tentu saja merugikan karena selain dapat mengurangi produktivitas maupun kualitas, juga dapat menyebabkan kegagalan panen. Berikut adalah beberapa penyakit tanaman sayuran yang biasa dijumpai di musim hujan yang menyebabkan kegagalan atau menurunkan mutu produk sayuran :
• Tanaman Cabai

Antracnose (Busuk Buah)
Penyakit ini disebabkan oleh jamur Collectroticum gloeosporioides dan dilaporkan ditemukan di hampir seluruh dunia. Adapun gejala serangannya antara lain sebagai berikut : Pada buah muda ataupun tua permukaanya nampak bercak berair dan berkembang dengan cepat hingga berdiameter 3 – 4 cm. Bercak luka menurun dan berwarna merah tua kehitaman yang menampakkan massa spora yang berbentuk melingkar – lingkar. Adanya musim hujan dengan suhu dan kelembaban yang tinggi ini menjadi penyebab meningkatnya perkembangan jamur. Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan cara : treatment benih, rotasi tanaman dan aplikasi fungisida Victory 80WP diselingi Promefon 250EC.
Cercospora Leaf Spot
Penyakit ini sama halnya seperti cacar pada manusia yaitu menimbulkan bintik-bintik/bercak-bercak melingkar terutama pada daunnya. Penyebabnya tidak lain adalah jamur Cercospora capsici. Penyakit bercak daun ternyata menyebar merata di seluruh dunia khususnya pada tanaman cabai.
Gejala serangan daun yang terluka berbentuk bulat dengan diameter 1 cm yang dikelilingi warna coklat dan berwarna abu-abu di tengahnya (seperti mata katak). Serangan yang terjadi menyebabkan daun rontok, baik dengan gejala daun menguning ataupun tanpa gejala daun menguning. Luka yang timbul pada batang, tangkai daun, dan tangkai buah berbentuk elips dengan pusat abu-abu yang dikelilingi warna gelap disekitarnnya. Buahnya tidak ikut terserang penyakit ini. Jamur ini terdapat pada benih dan seresah daun yang telah terkena serangan. Lamanya waktu hujan dan kebasahan daun serta jarak tanam yang rapat dapat mendorong perkembangan penyakit. Penyemprotan fungisida Victory 80WP dapat mengendalikan penyakit, tetapi perkembangannya bergantung pada kondisi lingkungan sekitarnya apakah sesuai untuk perkembangan penyakit ini.
Bacterial Spot
Bacterial spot atau bercak bakteri pada tanaman cabai berbeda dengan bercak melingkar cercospora. Penyakit ini disebabkan oleh Xanthomonas campestris pv. Vesicatoria. Penyakit ini termasuk salah satu penyakit cabai yang umum dialami petani karena ditemukan di seluruh dunia. Gejala Serangannya ditandai dengan timbulnya bercak berair yang mengering dengan dikelilingi warna kuning pada daun. Luka yang timbul dimulai dari bagian atas hingga mencapai bawah daun. Daun yang terkena serangannya menjadi kuning dan rontok. Luka pada buah berwarna gelap dan berbintik-bintik. Bercak nekrotis timbul pada batang dan tangkai daun. Perkembangan jamur ini disebabkan karena terbawa benih dan bisa berada pada seresah daun dari tanaman yang terserang. Banyak jenis bakteri ini yang menyerang cabai dan tomat. Penyakit ini juga didorong oleh suhu tinggi, kabut yang tebal, serta pengairan dengan system leb.Pengendaliannya dapat dilakukan dengan melakukan pergiliran dengan tanaman yang tahan dan non-sayur. Selain itu juga dengan menggunakan benih yang bebas hama dan penyakit. Jenis varietas yang tahan terhadap penyakit ini mulai banyak, tetapi terkadang tidak untuk semua jenis bakteri. Penyemprotan fungisida tembaga seperti Kocide 77WP sangat efektif dalam mengendalikan serangan penyakit ini. Sungkup untuk menahan hujan juga dapat mengurangi serangan penyakit ini di musim penghujan.
Bacterial Soft Rot
Penyakit busuk lunak bakteri ini disebabkan oleh Erwinia carotovora sub sp. Carotovora dan ditemukan di seluruh dunia. Gejala Serangan ditandai dengan adanya bercak berair yang menyebar ke seluruh buah. Buah yang terserang menjadi rontok atau tergantung seperti kantong yang penuh air. Selama masa panen, pembusukan biasanya dimulai pada batang dan diikuti oleh buah. Penyakit ini ternyata tidak hanya menyerang cabai saja melainkan dapat terjadi pada berbagai macam buah dan sayuran. Bakteri penyebab penyakit ini terdapat pada seresah tanaman, serangga, bahkan di tanah. Bakteri ini masuk ke tanaman melalui luka yang ditimbulkan oleh serangga taupun luka mekanis.

Kondisi hujan dan suhu yang tinggi sangat sesuai untuk perkembangan bakteri ini. Buah yang telah dipanen pun bisa terkena penyakit ini dari air yang digunakan untuk mencuci buah. Untuk mengendalikannya dapat dilakukan pergiliran tanaman atau dengan dengan menanam tanaman yang tahan serta non-sayur. Selain itu system darinase lahan pun harus diperbaiki sehingga lahan cepat mengering dan mengurangi percikan air tanah. Kemudian pemanenan buah dianjurkan dilakukan saat kondisi kering dan hati-hati untuk menghindari adanya luka. Jika memungkinkan sebisa mungkin menghindari mencuci buah dengan air sembarang sebelum disterilisai dengan klorin.
Bacterial Wilt
Bacterial Wilt atau layu bakteri pada cabe yang disebabkan oleh Ralstonia solanacearum ini termasuk salah satu penyakit yang ditakuti petani cabe. Meskipun hanya ditemukan di daerah tropis dan subtropics yang memiliki curah hujan tinggi saja namun kerusakan akibat penyakit ini tidaklah sedikit karena bisa mengancam kegagalan panen yang cukup besar. Awal gejala serangan yang timbul adalah adanya layu pada daun terbawah (atau daun teratas pada bibit) yang diikuti oleh layu yang tiba-tiba pada seluruh tanaman tanpa adanya gejala kekuningan pada tanaman. Penyakit ini timbul pada sekelompok tanaman saja atau mungkin hanya satu tanaman saja. Jaringan angkut tanaman sakit menjadi coklat serta pembusukan pada korteks yang dekat dengan tanah. Aliran bakteri akan muncul dari jaringan angkut tanaman yang dipotong melintang dari batang terbawah dan akan mengendap di air. Penyakit ini dapat menyerang hampir pada 200 jenis tanaman yang berbeda. Tanaman yang sering terserang adalah tomat, tembakau, kentang dan terung, disamping itu juga sangat merusak pada tanaman cabai. Bakteri ini dapat bertahan di tanah dalam waktu lama. Masuknya bakteri ini melalui luka pada akar ataupun luka akar yang disebabkan oleh serangga, nematode, atau pengolahan tanah. Suhu yang tinggi dan kelembaban tanah yang tinggi sangat sesuai untuk perkembangan penyakit ini. Pengendalian penyakit layu dapat dilakukan antara lain : dengan menggunakan bedeng semai yang bebas dari hama dan penyakit, melakukan fumigasi pada bedeng semai serta sterilisasi media tanam. Kemudian lakukan pergiliran tanaman dengan tanaman lain seperti padi misalnya, pergiliran ini akan mengurangi jumlah bakteri. Hindari system penanaman yang dapat merusak akar. Gunakan bedengan yang lebih tinggi untuk memudahkan drainase. Cabai besar lebih tahan terhadap penyakit ini dibanding paprika. Jenis yang tahan terhadap penyakit ini sedang dikembangkan tetapi belum tersedia. Untuk tindakan pencegahan dapat dilakukan penyemprotan larutan Kocide 77WP konsentrasi 5 gr/L dengan volume semprot 200 ml/tanaman saat tanaman mulai berbuah atau mulai ada gejala serangan dengan interval 14 hari.
• Tanaman Kubis-kubisan
Alternaria Leaf Spot
Seperti halnya pada tanaman cabe, bercak alternaria pun dapat menyerang kubis-kubisan. Namun, penyakit pada kubis ini disebabkan oleh Alternaria brassicae, A. brassicicola. Hampir seluruh tanaman kubis-kubisan sangat peka terhadap bercak daun Alternaria dan dapat menyerang tanaman pada seluruh fase pertumbuhan. Gejala yang ditimbulkan oleh 2 pathogen ini sama dan bisa ditemukan dalam satu tanaman. Serangan pada tanaman di persemaian dapat mengakibatkan damping off atau tanaman kerdil. Bentuk Bercak daun sangat beragam ukurannya dari sebesar lubang jarum hingga yang berdiameter 5 cm. Umumnya serangan dimulai dengan adanya bercak kecil pada daun yang membesar hingga kurang lebih berdiamter 1,5 cm dan berwarna gelap dengan lingkaran konsentris. Perubahan warna menjadi coklat pada head cauliflower dan brokoli juga disebabkan oleh pathogen ini. Patogen ini juga menimbulkan bercak elips nekrotis pada benih. Penyakit ini disebabkan oleh patogen yang terbawa benih. Alternaria sendiri dapat disebarkan oleh angin. Serangan dapat dipercepat oleh cuaca yang lembab dengan suhu optimum antara 25 – 30oC. Pengendalian yang dapat dilakukan antara lain : menggunakan benih yang bebas dari patogen ini. Air panas dan perlakuan benih dengan bahan kimia juga sangat efektif. Kemudian , penggunaan fungisida Promefon 250EC juga dapat diterapkan untuk mengendalikan perkembangan beberapa penyakit. Hindari penyiraman pada head cauliflower dan brokoli untuk mencegah pembusukan head.
Bacterial Soft Rot
Penyakit busuk lunak ini sangat sering dijumpai pada tanaman kubis-kubisan. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Erwinia carotovora ini ditemukan di seluruh dunia. Busuk lunak dapat menyerang seluruh tanaman kubis-kubisan, tetapi lebih sering menyerang sawi putih dan kubis. Jaringan tanaman yang telah terserang menunjukkan gejala basah dan diameter serta kedalamannya melebar secara cepat. Bagian tanaman yang terkena menjadi lunak dan berubah warna menjadi gelap apabila serangan terus berlanjut. Tanaman yang terkena busuk lunak menimbulkan bau yang khas yang dimungkinkan oleh adanya perkembangan organisme lain setelah pembusukan terjadi. Serangan ini bisa terjadi di lahan, saat pengangkutan, ataupun saat penyimpanan. Bakteri busuk lunak timbul dari seresah tanaman yang telah terinfeksi, melalui akar tanaman, dari tanah, dan beberapa serangga. Luka pada tanaman seperti stomata pada daun, serangan serangga, kerusakan mekanis, ataupun bekas serangan dari pathogen lain merupakan sasaran yang empuk untuk serangan bakteri.

Hujan dan suhu yang tinggi mendorong penyebaran di lahan. Infeksi pada saat pengangkutan dan penyimpanan merupakan kontaminasi bakteri saat di lahan maupun pasca panen melalui peralatan pengangkutan dan panen serta tempat penyimpanan. Bakteri busuk lunak dapat berkembang pada suhu 5 – 37oC dengan suhu optimum berkisar 22oC. Pengendalian secara preventif bisa ditempuh melalui kebersihan lingkungan dan sistem budidaya. Menunggu tanah melapukkan sisa-sisa tanaman lama di lahan sebelum menanam tanaman selanjutnya sangat dianjurkan untuk mengatasi hal ini. Lahan harus memiliki drainase yang baik untuk mengurangi kelembaban tanah serta jarak tanamnya harus cukup memberikan pertukaran udara untuk mempercepat proses pengeringan daun saat basah. Pembuatan pelindung hujan dapat pula menghindari percikan tanah dan pembasahan daun yang akan mengurangi gejala busuk lunak. Penyemprotan bacterisida seperti Kocide 77WP dengan interval 10 hari sangat dianjurkan terutama saat penanaman musim hujan.
Black Rot
Penyakit busuk hitam (Black rot) yang disebabkan Xanthomonas campestris pv. Campestris termasuk salah satu penyakit penting pada tanaman kubis-kubisan. Busuk hitam dapat menyerang seluruh tanaman kubis-kubisan. Gejala awal yang timbul adalah pada tepi daun dan berlanjut hingga klorosis membentuk huruf V. Dengan berjalannya waktu, gejala yang timbul tadi kemudian mengering dan seperti terbakar (nekrotis). Serangan umumnya terjadi pada pori daun, tetapi tidak menutup kemungkinan dapat menyerang di bagian daun mana saja yang telah terserang serangga ataupun luka secara mekanis sehingga memudahkan bakteri masuk. Bakteri ini menyerang jaringan pengangkutan tanaman dan dapat berpindah secara sistematis dalam jaringan pengangkutan tanaman tersebut. Jaringan angkut yang terserang warnanya menjadi kehitaman yang dapat dilihat sebagai garis hitam pada luka atau bisa juga diamati dengan memotong secara melintang pada batang daun atau pada batang yang terkena infeksi. Busuk hitam juga dapat menyebabkan terjadinya busuk lunak. Bakteri banyak terdapat pada seresah dari tanaman yang terinfeksi, tetapi akan mati jika serasah tadi melapuk. Bakteri ini juga terdapat pada tanaman kubis-kubisan yang lain dan tanaman rumput-rumputan serta dapat pula terbawa benih. Suhu serta curah hujan yang tinggi sangat sesuai untuk perkembangan busuk hitam. Bakteri ini berada pada tetesan butir air dari tanaman yang terluka serta dapat menyebar ke seluruh tanaman melalui manusia ataupun peralatan yang sering bergerak melintasi lahan saat kondisi tanaman sedang basah.Pengendalian dapat dilakukan dengan pergiliran tanaman yang bukan jenis kubis-kubisan, sehingga akan memberikan waktu yang cukup bagi seresah dari tanaman kubis-kubisan untuk melapuk. Lalu menggunakan benih bebas hama dan penyakit yang dihasilkan di iklim yang kering. Hindari untuk bekerja di lahan saat daun tanaman basah. Tanamlah varietas kubis yang tahan terhadap busuk hitam. Penyemprotan bakterisida Kocide 77WP sangat dianjurkan , terutama untuk budidaya di musim penghujan.
ClubrootClubroot atau Akar Gada
merupakan penyakit terpenting pada tanaman kubis-kubisan yang disebabkan oleh jamur Plasmodiophora brassicae. Penyakit ini menyebar merata diseluruh areal pertanaman kubis di seluruh dunia; sering dijumpai pada daerah dataran rendah dan dataran tinggi . Hampir seluruh tanaman kubis-kubisan sangat rentan terserang akar gada. Kubis, sawi putih, dan Brussels sprout sangat rentan terkena akar gada. Gejalanya adalah pembesaran akar halus dan akar sekunder yang membentuk seperti gada. Bentuk gadanya melebar di tengah dan menyempit di ujung. Akar yang telah terserang tidak dapat menyerap nutrisi dan air dari tanah sehingga tanaman menjadi kerdil dan layu jika air yang diberikan untuk tanaman agak sedikit. Bagian bawah tanaman menjadi kekuningan pada tingkat lanjut serangan penyakit. Spora dapat bertahan di tanah selama 10 tahun, dan bisa juga terdapat pada rumput-runputan. Penyakit ini bisa menyebar melalui tanah, dalam air tanah, ataupun dari tanaman yang sudah terkena. Penyakit ini menyukai tanah yang masam dan serangan dapat terjadi pada suhu antara 10 dan 32oC. Penyakit ini memiliki berbagai bentuk gejala serangan sehingga mendorong untuk memuliakan tanaman yang tahan terhadap penyakit ini.Pengendalian dilakukan dengan Penggunaan bibit yang bebas hama dan penyakit sangatlah penting dalam budidaya tanaman ini. Pergiliran tanaman kurang sesuai diterapkan untuk kasus ini karena sporanya dapat bertahan lama serta gulma yang dapat menyebabkan penyakit ini. Pengapuran tanah untuk meningkatkan pH menjadi 7.2 sangat efektif untuk mengurangi perkembangan penyakit. Penyiraman fungisida Promefon 250EC pada lubang tanam yang dicampur dengan air saat tanam juga dapat mengurangi perkembangan penyakit. Tanaman yang taha haruslah diuji di beberapa lokasi karena jenis serangannya yang berbeda-beda di setiap lokasi.
• Tanaman Timun-timunan
Alternaria Leaf Spot
Penyakit bercak ternyata tidak hanya menyerang tanaman kubis maupun cabai saja namun juga pada tanaman yang tergolong timun-timunan. Penyakit bercak pada timun ini disebabkan jamur Alternaria cucumerina. Biasanya, penyakit ini menyerang hanya satu jenis tanaman saja. Tanaman dapat terserang pada berbagi fase pertumbuhan. Serangan pada bibit tanaman dapat menyebabkan mati atau kerdil. Sedangkan pada tanaman yang lebih tua akan layu pada tengah hari pada beberapa waktu, kemudian layu untuk seterusnya dan akhirnya mati. Jaringan angkut tanaman menjadi kuning atau coklat. Penyakit ini dapat bertahan di tanah untuk jangka waktu lama. Penyakit ini bisa berpindah dari satu lahan ke lahan lain melalui mesin-mesin pertanian, seresah daun yang telah terserang, dan air irigasi. Suhu tanah yang tinggi sangat sesuai untuk perkembangan penyakit ini. Pengendaliannya dapat dilakukan dengan : menggunakan varietas yang tahan. Menghindari penanaman di lahan yang telah diketahui mengandung penyakit ini. Serta mencuci peralatan saat berpindah dari lahan satu ke lahan lainnya. Lahan yang tergenangi untuk padi dapat mengurangi keberadaan penyakit di tanah. Apabila terlanjur ada serangan, dianjurkan untuk menyemprot fungisida Promefon 250EC bergantian dengan Victory 80WP.
Fusarium Wilt
Layu fusarium merupakan penyakit yang sering menyerang tanaman famili timun-timunan. Penyebabnya adalah Fusarium oxysporum f.sp. cucumerinum pada mentimun, F. oxysporum f.sp. melonis pada melon cantaloupe; dan F. oxysporum f.sp. niveum pada semangka. Penyakit ini ditemukan di seluruh dunia, namun beberapa jenis terdapat hanya pada lokasi tertentu saja. Seperti halnya penyakit alternaria, penyakit ini hanya menyerang satu jenis tanaman saja. Tanaman yang terserang bisa terjadi pada berbagai tahap pertumbuhan. Mulai dari bibit hingga tanaman tua. Baik saat bibit maupun tanaman dewasa , serangan penyakit ini dapat meyebabkan layu yang akhirnya mati. Tandanya dapat dilihat pada jaringan angkut tanaman yang berubah warna menjadi kuning atau coklat.Penyakit ini dapat bertahan di tanah untuk jangka waktu lama dan bisa berpindah dari satu lahan ke lahan lain melalui mesin-mesin pertanian, seresah daun yang telah terserang, maupun air irigasi. Suhu tanah yang tinggi sangat sesuai untuk perkembangan penyakit ini. Adapun pengendalian nya dapat dilakukan dengan : menggunakan varietas yang tahan bila memungkinkan. Hindari lahan yang telah diketahui mengandung penyakit ini. Cucilah peralatan saat berpindah dari lahan satu ke lahan lainnya. Lahan yang tergenangi untuk padi dapat mengurangi keberadaan penyakit di tanah.
Downy Mildew
Downy Mildew termasuk penyakit yang paling merusak pada tanaman timun-timunan yang disebabkan oleh jamur Pseudoperonospora cubensis. Penyakit ini banyak terdapat pada mentimun dan melon, tetapi sesekali menyerang dapat merusak seluruh tanaman timun-timunan. Gejala yang timbul biasanya terjadi pada daun yang berupa bercak kekuningan yang berubah dari kecoklatan menjadi coklat tua. Saat kelembaban tinggi, timbulnya spora menjadi bukti pada bagian bawah daun yang luka dimana spora tadi masuk ke dalam daun melalui stomata dan menghasilkan spora yang berwarna. Penyakit ini merupakan parasit yang dapat berada pada tanaman yang dibudidayakan, tanaman local/induk, ataupun jenis timun-timunan yang liar di daerah tropis dan subtropics.Spora yang terbawa oleh udara atau percikan air hujan menjadi penyebab utama penyebaranya. Selain itu, adanya perbedaan suhu yang tinggi ditambah dengan kelembaban yang tinggi dari embun , kabut, atau hujan mempengaruhi pesatnya penyebaran sporanya. Pengendalian dapat dilakukan dengan menggunakan varietas yang tahan bila ada. Penyemprotan fungisida Starmyl 25WP dicampur Victory 80WP sangat dianjurkan jika tidak ada varietas yang tahan dan guna mencegah serta mengendalikan penyakit agar tidak meluas.
Late Blight
Busuk Daun atau Late Blight merupakan penyakit busuk pada tanaman tomat yang disebabkan oleh ja-mur Phytophthora infestans. Penyakit ini ditemukan di iklim sedang dan daerah datarn tinggi tropis. Penyakit late blight ini tidak hanya menyerang bagian daun saja melainkan juga batang serta buahnya. Pada bagain daun serangan ditandai dengan munculnya potongan-potongan kecil yang tidak beraturan dan berair serta menutupi bagian terbesar daun. Pembentukan spora jamur dapat dilihat pada sisi bawah daun dan berwarna putih. Kemudian luka mengering dan menjadi coklat. Akhirnya terjadi bercak pada seluruh daun. Pada bagian batang penyakit ini ditandai dengan muncul luka-luka kecil yang tidak beraturan dan berair dan dapat mematikan bagian batang dan tangkai daun yang terserang, atau menempel, dan membentuk luka berwarna coklat tua. Sedangkan pada bagian buahnya ditunjukkan dengan permukaan halus, kehijauan hingga coklat, bagian yang memiliki bentuk tidak beraturan tersebut membuat buah menjadi kasar dan permukaan buah menjadi ulet. Luka dapat melebar pada seluruh buah.Daun yang basah dalam waktu yang lama dari seringnya hujan atau embun, serta kondisi suhu dingin hingga sedang merupakan kondisi yang sesuai untuk perkembangan penyakit ini. Adanya cuaca yang kering dan panas dapat menghentikan perkembangan penyakit ini.Jamur penyebab penyakit busuk daun dapat bertahan pada tanaman tomat dan kentang terutama pada umbi kentang. Tetapi tidak dapat bertahan pada jaringan yang melapuk. Spora menyebar melalui angin dan percikan air hujan. Air yang berada di permukaan tanaman pun bisa menyebabkan perkecambahan dan penyerangan spora. Pengendalian dapat dilakukan dengan memberikan fungisida seperti Starmyl 25WP (Metalaksil), Victory 80WP (Mancozeb), Kocide 77WP (tembaga hidroksida). Gunakan tanaman yang bebas hama dan penyakit. Hindari penanaman tomat dekat lahan kentang atau lahan yang sebelumnya pernah ditanami kentang. Bakar seresah tanaman tomat atau kentang yang terinfeksi. Beberapa tanaman memiliki ketahanan terhadap jenis 0, tapi tidak tahan terhadap jenis 1.
Bacterial Wilt
Seperti halnya pada tanaman cabe, penyakit layu bakteri juga bisa menyerang tanaman tomat. Namun, penyebabnya adalah Ralstonia solanacearum, yang sebelumnya dikenal dengan Pseudomonas solanacearum. Serangan paling parah terdapat di daerah tropis dan subtropics dengan curah hujan tinggi. Penyakit layu bakteri menyerang hanya pada beberapa kelompok tanaman saja. Gejala awal ditunjukkan berupa layu pada daun-daun pucuk, dua hari kemudian layu mendadak dan permanent. Akar adventis dapat berkembang pada batang utama. Gejala tambahan berupa pencoklatan pada jaringan pembuluh, jaringan gabus berair dan diikuti pencoklatan dan kemudian pecoklatan jaringan kortek yang dekat dengan tanah. Aliran masa bakteri dapat dilihat ketika potongan batang yang masih segar dicelupkan dalam air. Diantara beberapa tanaman hortikultura yang ada, tomat merupakan tanaman yang paling peka terhadap penyakit ini. Bakteri penyebab layu ini ternyata dapat bertahan di dalam tanah dalam waktu yang lama meskipun tanpa adanya tanaman inang. Bakteri ini menembus akar melalui luka, yang dapat disebabkan oleh serangga, nematode dan luka akibat praktek budidaya. Suhu dan kelembaban tanah yang tinggi sangat kondusif / cocok untuk pertumbuhan penyakit ini. Hingga saat ini belum ada pengendalian secara kimiawi yang effektif . Namun untuk pencegahan sebaiknya sebelum tanam, perlu dilakukan sterilisasi tanah atau pengasapan bedengan. Pergiliran system tanam dengan tanaman tahan kurang berhasil, namun demikian pergiliran dengan tanaman padi dapat mengurangi gejala sengan penyakit layu bakteri. Varietas yang toleran dapat bertahan hingga 70 – 80%. Gunakan bedengan yang tinggi agar drainase dapat berjalan baik. Menjaga tanah agar tetap pada pH 5.5 atau lebih tinggi. Hindari penggunaan lahan yang telah terinfeksi oleh nematode.
Blossom End Rot
Busuk Ujung Buah atau Blossom End Rot juga termasuk penyakit penting pada tanaman tomat terutama di musim hujan. Penyakit ini ditandai dengan adanya luka berwarna kecoklatan sampai coklat tua pada bagian ujung buah yang nampak cekung. Luka tersebut membesar dan menjadi lebih cekung dan kulit mengelupas, kemudian diikuti oleh busuk kering. Jamur berwarna hitam tumbuh pada permukaan yang luka. Busuk ujung buah bukanlah disebabkan oleh penyakit namun lebih disebabkan oleh kekurangan unsur kalsium. Kondisi musim hujan yang ada berdampak pada berkurangnya serapan unsur kalsium pada tanaman tomat antara lain sehingga menimbulkan fluktuasi kelembaban tanah maupun kemasaman tanah, penggunaan nitrogen dalam bentuk ammonium, pemupukan nitrogen yang berlebihan, kelembaban relatif yang tinggi dan kerusakan akar. Yang pada akhirnya menyebabkan kerusakan. Agar tidak terjadi hal seperti ini maka dianjurkan : menggunakan varietas yang lebih tahan terhadap penyakit ini. Jika perlu, berikan kapur atau pemupukan kalsium sebelum tanam. Irigasi selama cuaca kering dan gunakan mulsa agar kelembaban tanah tempat tumbuh tanaman konstan. Perawatan tanaman harus hati-hati untuk mengurangi resiko kerusakan akar. Hindari penggunaan pupuk nitrogen yang berlebihan, khususnya dalam bentuk ammonium. Hindari pula lahan yang sulit diairi atau yang mempunyai tingkat kemasaman tinggi. Penyemprotan pupuk mikro FItomic setiap minggu mulai awal pembentukan buah sangat mengurangi timbulnya penyakit ini.

Selasa, 15 September 2009

Kompos Cair

INTISARITANI CAHYONO


Penasaran ingin mo dibuang ke mana sampah2 organik yang bertumpukan di rumah, daripada dibuang sia-sia ada artikelnya yang saya kutip dari sebuah situs: Di sini, peran masyarakat memang cukup tinggi. Kita sebagai masyarakat, bisa memulainya dari rumah sendiri dengan memisahkan sampah kering (non-organik) dan sampah basah (organik). Sampah kering bisa dimanfaatkan untuk didaur ulang menjadi berbagai macam barang. Sementara itu, sampah organik bisa dimanfaatkan menjadi kompos dan pupuk cair. Pupuk yang dihasilkan dari sampah organik ini biasa disebut dengan pupuk organik. Selain menyehatkan lingkungan, keunggulan lain dari pupuk organik ini adalah dapat membantu revitalisasi produktivitas tanah, menekan biaya usaha tani, serta meningkatkan kualitas produk. Pada dasarnya, sampah organik tidak hanya bisa dibuat menjadi kompos atau pupuk padat, tetapi bisa juga dibuat sebagai pupuk cair. Pupuk cair ini mempunyai banyak manfaat. Mulai dari fungsinya sebagai pupuk, hingga sebagai aktivator untuk membuat kompos. Untuk membuat kompos cair dibutuhkan alat atau wadah yang disebut komposter. Yakni sebuah tempat yang dibuat dari tong sampah plastik atau kotak semen yang dimodifikasi dan diletakkan di dalam atau di luar ruangan. Komposter ini bertujuan untuk mengolah semua jenis limbah organik rumah tangga menjadi bermanfaat.
Berikut ini merupakan langkah-langkah pengomposan dengan menggunakan komposter:
Pilih sampah organik seperti sisa makanan, sisa sayuran, kulit buah, sisa ikan, dan daging segar agar terpisah dari sampah. Sampah berupa plastik, kardus bekas minyak, oli, beling, dan air sabun harus dipisahkan agar prosesnya berjalan cepat.
Sampah yang berukuran besar seperti batang tanaman, sayuran daun, atau kulit buah yang keras sebaiknya dirajang terlebih dahulu agar pembusukannya sempurna. Selain itu, volume sampah yang terapung juga semakin banyak.
Siapkan cairan bioaktivator boisca atau yang lainya, yakni salah satu bioaktivator yang bisa digunakan untuk mempercepat proses pengomposan. Bioaktivator ini berfungsi untuk membantu mempercepat proses pembusukan. Tata cara penggunaannya sebagai berikut, pertama, siapkan sprayer ukuran 1 liter. Kedua, isi sprayer dengan air. Sebaiknya gunakan air sumur karena tidak mengandung kaporit. Namun, jika ingin memakai air PAM, air tersebut harus diendapkan terlebih dahulu selama satu malam. Tujuannya agar kaporitnya menguap. Pasalnya, kaporit di dalam air bisa mematikan mikroba yang ada di dalam boisca atau yang lainya. Ketiga, tambahkan boisca ke dalam sprayer dengan perbandingan 1 liter air ditambah dengan 1-2 tutup botol boisca. Dan, keempat, kocok-kocok sampai merata. Setelah itu, cairan siap digunakan.
Setelah sampahnya terkumpul dan dirajang, masukkan seluruhnya ke dalam komposter, lalu semprotkan boisca hingga merata ke seluruh sampah dan tutup rapat komposter.
Pada awal pemakaian, komposter baru bisa menghasilkan lindi (air sampah) atau kompos cair setelah dua minggu. Selanjutnya, pemanenan lindi dilakukan setiap 1-2 hari sekali.
Teknik pembuatan kompos cair ini diungkapkan Sukamto Hadisuwito dalam buku Membuat Pupuk Kompos Cair yang diterbitkan oleh AgroMedia Pustaka. Buku ini berisi tentang tip mengolah sampah di rumah sendiri, jenis-jenis pupuk organik padat dan cair, manfaat pupuk organik cair, serta aplikasi pupuk cair pada tanaman. Oya ini saya kutip dari : Review buku di Website Agro Media

Pupuk Dari Kulit Pisang

INTISARITANI CAHYONO

Kulit Pisang yang selama ini kita biarkan terbuang begitu saja ternyata mengandung unsur kimia yang baik untuk pupuk yaitu Fosfor, Magnesium, Sulfur, dan Sodium. Cara penggunaan : Untuk tanaman hias (dalam pot) : kulit pisang dipotong-potong kemudian potongan dipendam disekitar tanaman. Untuk tanaman pertanian (lahan sawah) : Cara 1. Kulit pisang di blender (dihaluskan) sampai menjadi cairan (10 Kg kulit pisang dicampur 10 Liter Air) rendam selama satu malam, air hasil rendaman disaring dengan kain. 1 Liter hasil saringan dapat dicampur 10 liter air semprotkan ke tanah sekitar tanaman. Cara 2. Kulit pisang di potong kecil-kecil, kemudian dikomposkan bersama tanah baru ditebar seperti pupuk pada umumnya. Selamat mencoba.

Jumat, 04 September 2009

PUPUK

Apakah pupuk itu ? Secara sederhana pupuk adalah bahan-bahan tertentu yang diberikan pada tanah agar dapat menambah unsure atau zat-zat makanan yang diperlukan oleh tanah, baik secara langsung atau tidak langsung. Pengertian yang lain adalah zat yang berisi satu unsure atau lebih yang dimasukan untuk menggantikan unsure yang hilang / habis terhisap oleh tanaman dari tanah. Dengan demikian pemupukan pada umumnya bertujuan untuk memelihara atau memperbaiki kesuburan tanah, dimana secara langsung atau tdak akan menyumbangkan bahan makananan pada tanaman yang tumbuh ditanah tersebut.
Macam, pupuk :
pupuk anorganik ialah hasil industri / pabrik , con TSP, UREA, KCL, ZA
pupuk organic ialah hasil akhir / antara dari perubahan atau peruraian bagian / sisa tumbuh-tumbuhanm dan binatang .
pemupukan dengan pupuk kandang, kompos atau pupuk hijau mengakibatkan tanah-tanah yang ringan strukturnya menjadi lebih baik, daya ikat air menjadi lebih tinggi, sedangkan tanah-tanah yang berat menjdi lebih ringan. Disini tidak akan membahas pupuk secara keseluruhan tetapi terbatas pada salah satu pupuk organic yaitu kompos.
Kompos
Kompos sebenarnya sudah kita kenal sejak dulu. Leluhur kita telah lama mempelajari nilai penggunaan kompos. Mereka menerima yang melimpah setelah hutan primer dibuka. Tempat yang dibuka tersebut bagian atasnya mengandung tanah yang sangat subur, yang terjadi dari daun-daunan, rumput yang hancur dan tercampur dengan kotoran burung/ binatang yang terkumpul berabad-abad. Namun ketika mereka berdiam ditempat tersebut dan mengolah tanah terus menerus mereka perhatika kesuburan tanah berkurang. Maka mereka mulai meniru hutan alam, memulihkan tanah tersebut dengan daun-daun, rumpur, senmak-semak dan kotopran hewan yang dikumpulkan. Dengan demikian kesuburan tanah dapat lestari.
Kompos adalah bahan organis yang telah lapuk seperti rumput, daun, alang-alangjerai, dedak padi serta kotoran hewan. Jenis bahan-bahan ini akan menjadi lapuk dan busuk ketika ada didalam keadaan basah dan lembab. Dialam terbuka kompos bias terjadi dengan sendirinya, melalui prose alami karena ada kerjasama antara mikro arganis dengan cuaca. Proses rersebut dapat dipercepat oleh manusia sehingga dapat menghasilkan kompos yang berkualitas baik dalam waktu yang tidak terlalu lama. Bahan organis yang telah terkompos dengan baik, nukan hanya memperkaya bahan makanan untuk tanaman tetapi terutama berperan besar terhadap perbaikan sifat fisik tanah.
Fungsi bahan organic :
bahan organic memperbesar daya ikat tanah yang bberpasir sehingga struktur tanah dapat diperbaiaki dan tidak terlalu berderai.
bahan organic dapat memperbaiki struktur tanah yang berlempung sehingga tanah menjadi ringan.
bahan organic dalam tanah akan mempertinggi kemampuan penampungan air, sehingga tanah dapat lebih banyak menyediakan air bagi tanaman.
bahan organi dalam tanah memperbaiki tata udara dalam tanah, terutama pada tanah berat. Dengan tata udara yang baik serta kandungan air yang cukup tinggi maka suhu tanah akan lebih stabil.
bahan organic dapat meningkatkan pengruuh pemupukan dari pupk buatan.
bahan organic mempertinggi daya ikat tanah terhadap zat-zat hara, sehingga tidak mudah larut oleh air pengairan atau hujan.
Kompos yang telah matang dapat dipakai sebagai bahn untuk memperkaya bahan organic tanah disamping pupuk organis lainya. Kita dapat memanfaatkan sisa tanaman yang terbuang dan sampah sebagai pupuk setelah jadi kompos.
bahan kompos
limbah atau sisa-sisa tanaman.
pupuk kandang.
pupuk buatan ; urea, tsp, kcl
kapur gamping (dapat diganti abu kayu/dapur)
air
tanah
cetakan (dari bamboo, kayu atau besi)
tutup kompos (agar tidak terkena hujan dan terik matahari)
cara membuat kompos
lapiasan paling bawah:
simpan limbah yang telah kita sediakan, lalu tebarkan pupuk buatan biar merata dan yang biasa kita lakukan masing-masing 1 gelas pupuk buatan per 1 m2 permukaan kompos. Setelah itu taburkan kapur/ abu dapur biasanya 1 – 2 gelas per m2 permukaan kompos, lalu siram air (semprotkan) secara rata samapai basah dan jangan terlalu basah, lalu tutup dengan tanah, taburkan pukan kira2 perlapis sebanyak 1 karung urea dengan tebal 30 cm terdiri dari 25 cm lapiasan limbah pertanian, pupuk buatan, kapur dan karung kira2 5 cm lapisan pukan. Periksalah 1 minggu sekali kuatir komposnya kering dan 1 bulan sekali kita balik. Setelah dapat 3 bulan biasanya kompos sudah masak, cepat atau lambatnya pembuaran kompos tergantung pada banyaknya bahan-bahan yang kita buat dan seringnya kita menambahkan bahan kompos, lebih sering lebih cepat masak.