Rabu, 11 November 2009

Potensi Yang Terbuang


Tidak ada limbah, semua adalah produk yang berguna, baik secara langsung ataupun melalui tahapan proses lebih lanjut. Ada pertanyaan ‘nakal’, apa beda antara susu dan urin? Dalam pola pikir proses industri, keduanya sama. Sama-sama bahan baku yang dihasilkan ternak. Keduanya bisa langsung digunakan, tapi juga sama-sama bisa diproses untuk mendapatkan nilai lebih secara teknis maupun ekonomis. Sayang, urin masih saja terbuang...Adalah Danarto, aktivis pertanian organik yang tergabung dalam komunitas RAMES (Rakyat Adil Makmur Merdeka Sejahtera) yang bertahan memproduksi pupuk organik asal urin sapi sejak 2000. “Saat yang lain berhenti produksi, kita tetap bertahan. Kita berdampingan dengan kelompok tani,” kata pria paruh baya ini tegas.Tekadnya bergelut dengan cairan pesing ini bermula dari kiprahnya sebagai pegawai kontrak di Pusat Antar Universitas (PAU) UGM tahun 1986 – 1995. Saat itu ia menjadi staf bagian pengembangan bahan pengajaran dan penelitian. Di sanalah ia kenal dengan penelitian-penelitian pertanian organik dan mendekati penelitinya Prof Dr Joedoro Soedarsono. “Sampel dan catatan - catatan sementara penelitian yang seharusnya dibuang, saya pelajari. Saya coba otak-atik sendiri sambil konsultasi. Bahkan sampai beliau pensiun ini saya tetap konsultasi,” akunya. Barulah pada 1997, ia membentuk kelompok petani, dan pada 1999 mendirikan komunitas RAMES yang memproduksi pupuk cair berbahan urin.Danarto tak hanya memproduksi satu jenis pupuk. Ada pupuk penyedia Nitrogen, Fosfor dan Kalium. Ketiganya berbentuk cair dan dibuat dari limbah pertanian. “Pupuk lengkap unggulan kami berlabel Bioreen. Bahannya dari urin sapi perah, dedaunan, dan limbah buah-buahan pasar,” paparnya. Danarto juga menambahkan susu afkir pada pembuatan bioreen. Sebab, susu merangsang tumbuhnya lactobacillus yang berfungsi sebagai penggembur tanah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar